
Stroke adalah kondisi serius yang terjadi ketika aliran darah menuju otak terganggu atau berkurang karena penyumbatan pembuluh darah atau pecahnya pembuluh darah.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat dalam laporannya menyampaikan bahwa stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian perempuan dan kondisi ini lebih sering terjadi semasa atau setelah menopause.
Artikel yang dipublikasikan di laman resmi Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa perubahan hormonal yang terjadi pada masa transisi menopause berpengaruh pada kesehatan kardiovaskular perempuan.
Faktor-faktor seperti obesitas, peningkatan lemak dalam darah, tekanan darah tinggi, perubahan komposisi lemak tubuh, dan penurunan kadar hormon estrogen dapat mendatangkan dampak yang kurang menguntungkan bagi kesehatan jantung, hati, dan vaskular.
Bertepatan dengan peringatan Hari Stroke Sedunia ada baiknya mempelajari kembali faktor penyebab dan indikasi risiko stroke pada perempuan beserta langkah-langkah pencegahannya.
Sebagaimana dikutip dalam siaran Hindustan Times, Prof. Dr. Suryanarayana Sharma PM selaku konsultan ahli saraf senior dan spesialis stroke dari Departemen Neurologi Apollo Hospitals di Bangalore, India, menandai menopause sebagai ‘masalah kesehatan tersembunyi’.
Dia mengatakan bahwa perempuan yang mengalami menopause sebelum berusia 40 tahun mungkin memiliki risiko 1,62 kali lebih tinggi terkena stroke. “Pergeseran hormonal, terutama penurunan estrogen, memainkan peran kunci dalam hal ini,” katanya.
“Penurunan kadar estrogen mengurangi produksi oksida nitrat, yang menyebabkan disfungsi endotel, kekakuan arteri, dan hipertensi, yang merupakan faktor utama risiko stroke,” ia menjelaskan.
Selain itu, dia mengemukakan, periode pascamenopause dikaitkan dengan peningkatan kadar kolesterol total dan LDL serta penurunan HDL. “Hal ini mengakibatkan percepatan aterosklerosis dan penyempitan arteri serebral, yang merupakan predisposisi stroke iskemik,” katanya.
Dia juga menyampaikan bahwa kadar estrogen yang rendah memicu peradangan, yang selanjutnya berpeluang memicu pembentukan gumpalan darah. “Penurunan estrogen meningkatkan agregasi trombosit, meningkatkan kadar fibrinogen, dan memicu peradangan sistemik, sehingga menciptakan kecenderungan pembentukan bekuan darah,” katanya.
Dr. Sharma mengatakan bahwa perubahan metabolisme yang terjadi pada perempuan selama menopause berpeluang memicu peningkatan risiko stroke.
“Menopause berkaitan dengan obesitas sentral, resistensi insulin, dan diabetes tipe 2,” katanya, lalu menambahkan, hal ini semakin merusak pembuluh darah dan mengganggu aliran darah otak.
Dr. Sharma menyampaikan beberapa tanda-tanda indikasi stroke pada perempuan, antara lain nyeri pada wajah, lengan, atau kaki (terutama di satu sisi tubuh) serta kesulitan berbicara atau memahami pembicaraan.
Tanda lainnya yakni kehilangan keseimbangan, masalah penglihatan, dan sakit kepala parah yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Menurut Dr. Sharma, sekitar 90 persen kejadian stroke dapat dicegah. Dia menyarankan penerapan gaya hidup sehat untuk menekan risiko stroke selama dan setelah menopause.
Berikut langkah-langkah yang dapat dijalankan untuk membantu mengurangi risiko stroke.
- Mengontrol tekanan darah serta kadar gula darah dan kolesterol darah dalam rentang normal
- Menerapkan pola makan bergizi seimbang yang kaya buah, sayur, biji-bijian utuh, dan protein rendah lemak untuk menjaga tekanan darah dan kadar kolesterol tetap terkontrol
- Melakukan aktivitas fisik teratur setidaknya 30 menit setiap hari
- Menghindari merokok dan minuman beralkohol
- Menjalani pemeriksaan kesehatan rutin untuk memantau tekanan darah serta kadar gula darah dan lemak dalam darah agar masalah kesehatan bisa dideteksi sejak dini.
Sindroma metabolik
Perkumpulan Menopause Indonesia (Perminesia) menyampaikan bahwa perempuan berusia 40 tahun ke atas perlu mewaspadai sindroma (kumpulan gejala) metabolik, yang antara lain ditandai dengan obesitas perut dan lingkar perut 80 cm lebih.
“Hati-hati ya… Istilah di masyarakat ada bohay, itu mungkin sebenarnya berlebihan berat badan, ketika diukur lingkar perutnya lebih dari 80 cm,” kata Presiden Perminesia Tita Husnitawati.
“Usahakan (lingkar perut) jangan lebih dari 80 cm,” ia menambahkan.
Tanda sindroma metabolik yang lain, menurut dia, peningkatan tekanan darah, kadar gula darah, dan lemak tubuh. Ia mengatakan bahwa sindroma metabolik diikuti dengan sering haus, sering kencing, sakit kepala, pegal-pegal, dan mudah lelah.
“Sindroma metabolik ini merupakan tanda awal berkembangnya penyakit pembuluh darah, jantung, dan gejala prediabetes,” katanya.
Tita menyampaikan pengaruh gaya hidup terhadap perubahan kondisi tubuh perempuan ketika memasuki masa menopause. “Kondisi menopause menyebabkan gejala atau sindroma metabolik yang terdiri dari obesitas perut. Hal ini terjadi karena konsumsi makanan berkalori tinggi, kebiasaan merokok, dan pertambahan usia,” katanya.
Pada perempuan berusia 40 tahun ke atas, ia melanjutkan, sindroma metabolik juga bisa terjadi karena kebiasaan mengonsumsi makanan berlemak, makanan manis atau tinggi karbohidrat, dan makanan terlalu asin yang menyebabkan obesitas serta kurang olahraga.
Menurut dia, sindroma metabolik dapat diantisipasi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan mengatur asupan energi. Ia menyarankan perempuan usia 40 tahun ke atas mengonsumsi makanan rendah kalori, menghindari makanan-minuman manis dan makanan berbahan tepung, serta memperbanyak minum air putih, sayur, dan buah sebelum makan berat untuk mengurangi asupan karbohidrat.
Selain itu, ia mengatakan, melakukan olahraga aerobik setiap hari selama 30 menit minimal empat kali seminggu penting untuk mempertahankan berat badan ideal serta menjaga metabolisme tubuh berjalan normal dan nafsu makan terkendali. Merokok serta mengonsumsi alkohol, menurut dia, juga harus dihindari agar tubuh tetap sehat.
“Dengan hidup sehat maka risiko kesehatan jiwa dan raga dapat kita hindari, sehingga gejala atau perubahan menopause muncul tanpa membebani kita. Dan, kita pun bisa menikmati hidup dengan lebih baik lagi,” demikian Tita Husnitawati. (RN)
