
Perubahan hormonal terkait dengan pertambahan usia ternyata tidak hanya terjadi pada kaum perempuan yang disebut menopause, namun pria juga mengalami transisi serupa yang disebut andropause.
Ditulis laman Hindustan Times, andropause dapat dialami pria dengan perubahan hormonal dan tantangan emosional karena penurunan kadar testosteron seiring bertambahnya usia, namun seringkali terabaikan karena dianggap pria lebih memiliki kematangan emosi.
“Banyak pandangan masyarakat tentang maskulinitas membuat pria mengaitkan kekuatan dengan kestabilan emosi, produktivitas, dan kendali diri. Jadi, ketika perubahan internal ini terjadi, pria mungkin menganggap transisi ini sebagai tanda kegagalan pribadi, yang dapat menimbulkan rasa malu dan berujung pada penarikan diri secara emosional,” ujar Dr. Chandni Tugnait, psikoterapis.
Andropause muncul sebagai perubahan halus dalam suasana hati, energi, dan motivasi. Meskipun perubahan ini mungkin tampak tidak penting pada awalnya, perubahan ini dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari seorang pria. Di antara gejala andropause yakni perubahan energi fisik. Banyak pria mungkin awalnya menyadari penurunan tingkat energi mereka, merasa butuh waktu lebih lama untuk pulih dari latihan, merasa lelah sepanjang waktu, atau bangun dengan perasaan kurang segar, bahkan setelah tidur semalaman.
Selain itu, andropause memungkinkan ada penurunan gairah seks, yang sering kali disebabkan oleh stres atau penuaan. Namun, perubahan ini tidak hanya sementara melainkan menandakan adanya perubahan dalam tubuh pria.
Tugnait juga menyoroti adanya peningkatan kepekaan emosional yang dapat menyebabkan naik turunnya emosi tak terduga, mudah tersinggung, frustasi atau sedih yang sering muncul.
“Alih-alih membicarakan emosi-emosi ini, beberapa pria mungkin menarik diri, menciptakan jarak dalam hubungan mereka,” kata psikoterapis tersebut.
Kesulitan untuk mengekspresikan kerentanan ini dapat menyebabkan kesalahpahaman. Orang-orang terkasih mungkin salah mengartikan perubahan suasana hati ini sebagai kurangnya minat atau kasih sayang.
Seiring menurunnya kadar testosteron, banyak pria mulai merasa ragu pada diri sendiri, mempertanyakan daya tarik, kemampuan, dan harga diri mereka secara keseluruhan yang dapat memengaruhi banyak aspek kehidupan, termasuk keintiman seksual, pilihan pekerjaan, dan harga diri secara umum.
Andropause, kata Tugnait juga dapat membuat pria merenungkan hidup, merasa menghadapi mimpi yang terasa kurang tepat yang berakibat berjuang dengan identitas mereka selama ini. Penarikan diri secara emosional juga dapat merusak hubungan dan kesalahpahaman sebagai tanda perubahan hormon.
Untuk mendukung pria dalam masa andropause, Tugnait menyarankan untuk memberikan ruang pada pria membicarakan perasaan mereka, mengelola stres dan membantu mengembalikan arti maskulinitas.
Peran pasangan juga diperlukan untuk saling memahami selama andropause, agar dapat berkomunikasi dengan lebih lembut dan bekerja sama dengan lebih efektif. Pemahaman ini dapat menumbuhkan kedekatan emosional, alih-alih jarak, dan mengubah masa sulit menjadi kesempatan untuk berkembang.
Tugnait juga memberikan saran medis untuk melakukan perubahan gaya hidup, memperbaiki kebiasaan tidur, dan melakukan aktivitas fisik.
Berolahraga
Pakar andrologi lulusan Universitas Airlangga dr William, Sp. And membagikan kiat menunda atau bahkan mencegah andropause, antara lain berolahraga teratur dan menjaga berat badan ideal.
“Penerapan pola hidup sehat merupakan kunci utama dalam menunda atau bahkan mencegah andropause. Hal ini mencakup menjaga berat badan ideal, berolahraga teratur sehingga dapat meningkatkan produksi hormon testosteron alami dalam tubuh,” kata dia.
Kiat lainnya menunda andropause yakni menghentikan kebiasaan merokok serta mengontrol beberapa kondisi pemicu andropause, seperti gula darah tinggi maupun tekanan darah tinggi atau hipertensi dan berkonsultasi dengan dokter apabila muncul gejala-gejala yang mengarah pada andropause.
William menjelaskan andropause merupakan keadaan munculnya sekumpulan gejala akibat penurunan salah satu jenis hormon pada pria, yaitu hormon testosteron hingga batas tertentu.
Gejala umum andropause ditandai dengan penurunan semangat dalam beraktivitas, berkurangnya konsentrasi, serta menurunnya kepercayaan diri. “Sementara gejala andropause yang terkait dengan seksualitas di antaranya adalah penurunan gairah seksual dan kesulitan ereksi,” kata William yang berpraktik di RS Pondok Indah – Puri Indah itu.
Andropause umumnya mulai dialami oleh pria berusia di atas 45 – 50 tahun, tetapi dapat muncul pula pada usia lebih muda akibat beberapa pemicu, seperti gaya hidup yang tidak sehat, obesitas, merokok, kurang olahraga, gula darah tidak terkontrol, tekanan darah tinggi atau hipertensi, dan lain lain.
Menurut William, andropause memiliki sedikit perbedaan dengan menopause. Pada menopause, penurunan hormon reproduksi wanita yaitu estrogen dan progesteron terjadi secara cepat dan tajam. Sedangkan pada andropause, penurunan testosteron terjadi lebih lambat, yaitu sekitar 1 persen per tahun setelah usia 30 tahun.
Perbedaan lainnya, yakni tidak semua pria mengalami andropause. Sementara semua wanita pasti mengalami menopause.
Jumlah hormon
Andropause, gejala menopause pada pria, terjadi karena menurunnya jumlah hormon testosteron yang terjadi selama bertahap dalam waktu bertahun-tahun. Ahli urologi dr. Akbari Wahyudi Kusumah menjelaskan gejala-gejala terjadinya andropause.
“Andropause ada pada pria, tapi tidak secepat wanita, seiring turunnya hormon semua fungsi pada pria turun,” kata Akbari.
Pria yang mengalami andropause, lanjutnya, kerap merasa tertekan dan mengalami gangguan kognitif. Selain itu, andropause juga menyebabkan gangguan kardiovaskular, misalnya hiperlipidemia dan hipertensi.
Kondisi fisik pun menurun, massa kepadatan tulang berkurang, tubuh cepat lelah, massa otot dan kekuatannya menghilang. Metabolisme pada pria andropause juga terganggu, seperti obesitas, regulasi insulin dan kendali glikemia buruk. Disfungsi seksual juga kerap terjadi kala testosteron menurun, termasuk disfungsi ereksi. Sementara itu, keinginan dan aktivitas seksual berkurang. (RN)
