
Gangguan saraf seperti parkinson atau demensia sering kali bermanifestasi dengan cara yang tidak terduga, seperti kelemahan anggota tubuh.
Mengenali gejala-gejala ini sangat penting untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat sebelum terlambat.
Dikutip dari Hindustan Times, ahli anestesi dan dokter spesialis nyeri intervensional dr. Kunal Sood mengungkapkan lima gejala utama yang mengindikasikan gangguan sistem saraf klasik.
Tangan gemetar saat istirahat hingga kekakuan
Gejala-gejala ini seringkali berkaitan dengan penyakit Parkinson. Dr. Sood menjelaskan, “Seringkali penyakit Parkinson. Trias tremor saat istirahat, gerakan lambat, dan kekakuan berasal dari hilangnya dopamin di substansia nigra. Tremor muncul saat istirahat, gaya berjalan menjadi terseok-seok, dan postur membungkuk seiring perkembangannya”.
Tremor tangan saat akan menjangkau sesuatu
Tremor ini disebabkan oleh disfungsi sirkuit serebelo-talamo-kortikal dan hiperaktivitas sel Purkinje serebelum.” Tremor ini memburuk akibat stres, kafein , dan kelelahan, tetapi membaik dengan istirahat.
Kehilangan ingatan dan kebingungan
Ini bisa menjadi tanda-tanda awal demensia , menurut dokter. Ia menekankan, “Demensia sejati melibatkan penurunan kognitif yang cukup parah hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Tanda-tanda awal meliputi hilangnya ingatan dan gangguan fungsional, bukan hanya mudah lupa. Penyebabnya beragam, mulai dari Alzheimer,” jelasnya.
Kelemahan pada sisi tubuh hingga bicara tak jelas
Kelemahan atau mati rasa yang tiba-tiba pada salah satu sisi wajah atau lengan, disertai bicara cadel atau sulit, merupakan tanda-tanda peringatan stroke. Ia menyarankan untuk segera mencari pertolongan medis bila gejala ini timbul.
Kejang disertai pingsan atau tersentak
Tanda-tanda ini mungkin mengarah pada epilepsi . Dokter Sood menjelaskan, “Kejang muncul akibat aktivitas sel otak sinkron yang abnormal yang menyebabkan hilangnya kesadaran atau kejang,” katanya.
Kedutan di wajah
Dokter spesialis bedah saraf Wienorman Gunawan dari Bethsaida Hospital mengemukakan bahwa kedutan yang terjadi di wajah secara berulang kali dan tidak terkendali bisa jadi bukan sekadar tanda kelelahan atau stres.
Ia menjelaskan bahwa kondisi yang dalam dunia medis disebut hemifacial spasm atau kejang di wajah bisa terjadi karena ada gangguan saraf wajah yang menyebabkan kontraksi otot secara tiba-tiba dan terus-menerus di satu sisi wajah.
“Gangguan ini umumnya disebabkan oleh tekanan pembuluh darah pada saraf wajah,” kata dr. Wienorman Gunawan, Sp.BS.
“Seiring bertambahnya usia, pembuluh darah cenderung mengalami perubahan bentuk dan elastisitas, yang pada akhirnya bisa menekan saraf wajah dan memicu kontraksi otot yang tidak normal,” ia menjelaskan.
Ia mengatakan bahwa hemifacial spasm bisa menimbulkan ketidaknyamanan, gangguan psikologis, dan hambatan interaksi sosial pada sebagian orang. Menurut dia, gangguan ini dapat ditangani dengan pengobatan oral dan jika penerapan metode ini hasilnya tidak optimal, maka microvascular decompression (MVD) dapat dijadikan sebagai opsi.
MVD adalah prosedur yang ditujukan untuk menghilangkan tekanan pembuluh darah pada saraf wajah dengan cara memisahkan saraf dari pembuluh darah yang menekannya. Dalam hal ini, operasi dilakukan untuk mengatasi akar penyebab gangguan.
Metode lain yang dapat diterapkan dalam penanganan hemifacial spasm adalah injeksi botulinum toxin atau Botox ke area yang mengalami kedutan untuk mengurangi kontraksi otot yang berlebihan. Terapi ini umumnya perlu dilakukan secara berkala sesuai dengan kondisi pasien.
Dokter Wienorman menyampaikan bahwa pemilihan metode penanganan harus dilakukan sesuai dengan kondisi pasien. “Konsultasi dengan dokter spesialis bedah saraf sangat penting agar pasien mendapatkan penanganan yang tepat,” katanya.
Manajer Umum Medis Bethsaida Hospital dr. Luxandre Agung mengatakan bahwa kedutan wajah bisa menimbulkan gangguan dalam jangka lama, atau bahkan seumur hidup. “Penanganan yang tepat akan meningkatkan kualitas hidup pasien serta kenyamanannya dalam menjalani aktivitas sehari-hari,” katanya.
Neuralgia trigeminal
Dokter Spesialis Saraf/Neurologi dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono, Jakarta dr Astryanovita SpS mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyakit neuralgia trigeminal bila kerap merasakan nyeri di wajah.
Neuralgia trigeminal merupakan gangguan saraf kronis yang menyebabkan nyeri hebat di wajah. Nyeri ini berasal dari saraf trigeminal, saraf sensorik utama di wajah yang mengirimkan impuls sentuhan, rasa sakit, tekanan, dan suhu ke otak.
“Kalau ada nyeri di wajah yang menyebar, bisa masuk tiba-tiba, sakit sekali, tajam, dan kadang seperti ada perasaan tertusuk atau terbakar, dan intensitasnya berupa nyeri hebat, dan biasanya mengenai satu sisi wajah,” kata Astryanovita.
Astrya menjelaskan, rasa sakit yang ditimbulkan oleh gangguan ini bisa timbul secara spontan, ataupun dipicu dengan aktivitas sehari-hari seperti makan, mencuci muka, dan menggosok gigi. Ia juga mengungkapkan, terdapat penyakit lainnya yang memiliki gejala serupa, di antaranya seperti sakit yang ditimbulkan oleh kelainan susunan gigi atau sinus.
Oleh karenanya, Astrya menganjurkan kepada para penderita gejala tersebut untuk segera berobat dan berkonsultasi kepada dokter, sehingga gangguan tersebut bisa segera teratasi. Salah satu upaya pendeteksian awalnya bisa dengan menggunakan teknologi Magnetic Resonance Imaging (MRI) wajah.
“Kenapa harus dengan MRI?, Karena kita bisa mengetahui penyebab neuralgia trigeminal, ada tiga tipe penyebab penyakit ini,” ujarnya.
Astrya memaparkan ketiga tipe tersebut adalah tipe klasik, atau gangguan neuralgia trigeminal yang disebabkan oleh tekanan pembuluh darah, kemudian sekunder, yang diakibatkan oleh penyakit lain yang mendasarinya, serta tipe ideopatik atau tidak ada penyebabnya.
Oleh karenanya, lanjut dia, dalam penanganan penyakit ini, bagi pasien akan dilakukan pengobatan untuk meredakan rasa nyeri saraf, dan kemudian dilakukan operasi untuk memastikan kesembuhannya. Ia menyebut tingkat keberhasilan operasi pada gejala ini cukup tinggi, yaitu dengan angka keberhasilan berkisar antara 62-89 persen, dengan persentase kekambuhan yang kurang dari 2 persen pada 5 tahun pascaoperasi.
“Jangan segan-segan untuk periksa ke dokter, supaya tahu pasti apa penyebab dari penyakit yang dirasakan. Jangan merasa putus asa atau depresi, karena kita tidak sendirian. Kita bersama-sama untuk mencapai kesembuhan dari gangguan ini,” tutur Astryawati. (RN)
