Simak Gejala Awal Kanker Usus

Simak Gejala Awal Kanker Usus
Foto: idntimes.com

Kanker usus telah menjadi salah satu penyebab kematian di Indonesia. Diperkirakan 12,8 per 100.000 usia dewasa dengan tingkat kematian 9,5% dari seluruh kasus kanker, posisi ketiga untuk jenis kanker pada laki-laki dan posisi kedua pada perempuan.

Dr Eko Priatno SpB-KBD dari Bethsaida Hospital menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter apabila dicurigai kanker usus besar. “Gejala yang patut dicurigai misalnya BAB berdarah, perubahan pola BAB seperti diare berkepanjangan atau tidak teratur, sensasi tidak puas setelahnya, nyeri perut/kembung disertai mual dan muntah, serta berat badan turun tanpa sebab jelas,” ujar dr Eko.

Sayangnya, penderita sering datang berobat ketika sudah stadium lanjut, di mana sudah terjadi sumbatan usus dengan keluhan perut buncit, kembung, tidak bisa BAB/kentut, muntah, berat badan menurun, dan perut terasa nyeri.

Tingginya angka kematian oleh kanker jenis ini di Indonesia disebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat akan pentingnya pemeriksaan dini. Akibatnya, sebagian besar penderita kanker kolorektal di Indonesia mendatangi tenaga kesehatan untuk melakukan pengecekan pada saat dalam stadium lanjut.

Pada tahap ini, tanda dan gejala kanker kolorektal sudah terlihat atau dapat dirasakan. Pada kondisi ini, pengobatan pun menjadi lebih sulit, lebih mahal, dan tingkat keberhasilan menurun. Padahal, kunci utama keberhasilan penanganan kanker usus besar adalah ditemukannya kanker dalam stadium awal agar terapi dan tindakan dapat dilaksanakan secara kuratif.

Adapun pencegahan kanker jenis ini adalah dengan deteksi dini. Program deteksi dini dimulai dari usia 50 tahun pada populasi tanpa riwayat keluarga kanker. Sementara pada orang dengan riwayat keluarga kanker, skrining dimulai dari usia 40 tahun.

Skrining yang dilakukan meliputi pemeriksaan darah samar feses tiap tahun dikombinasikan dengan flexible sigmoidoskop tiap lima tahun atau kolonoskopi tiap 10 tahun. Perubahan pola makan orang Indonesia yang lebih tinggi lemak serta rendah serat menjadi salah satu penyebab peningkatan pasien kanker usus besar pada usia muda.

Selain itu, mengonsumsi minuman beralkohol, merokok, obesitas, kurang olahraga, menderita familial adenomatous polyposis (FAP), dan memiliki keluarga dengan riwayat menderita kanker usus besar juga dapat meningkatkan faktor risiko seseorang menderita penyakit mematikan ini.

Pembedahan adalah solusi terbaik dan terbukti menurunkan angka kekambuhan serta meningkatkan angka harapan hidup pasien kanker usus besar bila pasien datang pada stadium awal. Adapun keyhole surgery merupakan terobosan inovatif untuk penanganan kanker usus besar secara minimal invasif.

Keuntungan teknik keyhole surgery adalah secara kosmetik lebih baik, yaitu dengan sayatan minimal, proses pemulihan lebih singkat daripada teknik konvensional, nyeri minimal, serta waktu rawat singkat. “Pasien dapat lebih cepat kembali bekerja dan luka bekas operasi hampir tidak terlihat,” ungkap dr Eko. (RN)