Tahun Depan, Biaya Kesehatan di Indonesia Diprediksi Akan Naik

Artikel ini telah direview oleh
Tahun Depan, Biaya Kesehatan di Indonesia Diprediksi Akan Naik
Foto: ylki.co.id

Tahun Depan, Biaya Kesehatan di Indonesia Diprediksi Akan Naik

Hasil survei yang dilakukan oleh Willis Towers Watson menyebutkan, tahun depan biaya kesehatan di Indonesia diperkirakan akan meningkat hingga 12%.

Survei ini berdasarkan pada laporan mendalam tentang dampak ekonomi akibat Covid-19, serta penurunan biaya tunjangan perawatan kesehatan yang disponsori oleh pemberi kerja dan penundaan perawatan kesehatan non-darurat sebagai penyebab utama kenaikan yang diprediksi.

Di Indonesia, situasi pandemi mengakibatkan penurunan penggunaan layanan kesehatan swasta secara nasional, yang selanjutnya menurunkan tren biaya kesehatan dari 10,2% pada 2019 menjadi 10% tahun ini. Bersamaan dengan dipersiapkannya uji coba vaksin klinis, survei tersebut menyatakan bahwa akan terjadi peningkatan tren kesehatan hingga 12% pada 2021.

Menurut Dewita Anggraeni Head of Health & Benefits Indonesia di Willis Towers Watson, tidak diragukan lagi, pandemi berdampak besar terhadap perlambatan tren biaya kesehatan yang semakin meningkat tahun ini, khususnya di Indonesia.

“Apalagi dengan situasi Covid-19, orang semakin menunda untuk menjalani operasi yang tidak mendesak dan berbagai prosedur elektif lain. Penurunan tren kesehatan juga dipengaruhi oleh meningkatnya pemanfaatan BPJS Kesehatan, terutama untuk penyakit kronis dan kritis, serta perawatan-perawatan lain yang biayanya sangat tinggi,” kata Dewita dalam keterangan tertulisnya, beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Over Gunakan Obat Steroid Sebabkan Osteoporosis

Ia menjelaskan, ada tiga faktor teratas yang memengaruhi tren medis pada 2021. Kanker (79%) menempati urutan pertama di antara tiga kondisi teratas yang memengaruhi biaya kesehatan di Asia Pasifik, diikuti oleh penyakit kardiovaskular (76%) serta gangguan muskuloskeletal dan jaringan ikat (42%).

“Pandemi telah sangat meningkatkan kesadaran individu akan kebersihan dan perawatan kesehatan pribadi. Situasi ini juga semakin mempercepat adopsi dan penggunaan telehealth, yang dapat membantu mengimbangi potensi biaya yang lebih tinggi dengan cara yang lebih efisien bagi mereka yang diasuransikan, untuk mengakses dan menggunakan perawatan kesehatan di masa mendatang,” tukas Dewita. (RN)