Tak hanya Fisik, Ini 7 Masalah Stunting

Artikel ini telah direview oleh
Tak hanya Fisik Ini 7 Masalah Stunting
Foto: validnews.com

Di Indonesia, stunting masih menjadi persoalan yang krusial. Pada dasarnya, stunting bukan saja menghambat pertumbuhan fisik, di mana anak sulit tumbuh tinggi, tetapi juga menyebabkan masalah lain.

Tercatat 9 juta anak mengalami stunting. Angka ini tergolong tinggi dan hampir sama dengan jumlah penduduk satu negara. Ada tiga hal yang membuat tingginya jumlah stunting di Indonesia, apa saja?

Menurut Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjoyo dalam acara Stunting Summit di Hotel Borobudur, Jakarta, beberapa waktu lalu, “Nomor satu karena ketidaktahuan masyarakat akan stunting, kurang mengerti mengelola makanan meski lumbung padi banyak.”

Kedua, tidak tersedianya sanitasi air bersih yang baik. Kondisi ini juga dipicu dengan kebiasaan masyarakat tidak menerapkan pola hidup sehat serta infrastruktur dasar di desa seperti minimnya air bersih dan fasilitas kesehatan yakni poliklinik dan posyandu belum memadai.

Ketiga, kemiskinan yang masih tinggi. Hingga saat ini tercatat ada sekitar 27 juta orang miskin di Indonesia. Karena itu, adanya dana desa, diharapkan bisa mengatasi stunting dengan dibangunnya PAUD, poliklinik desa dan infrastruktur lainnya.

Baca juga:  Simak Gejala Tubuh Kekurangan Protein

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyampaikan beberapa dampak yang ditimbulkan akibat stunting, di antaranya:

  1. Sulit berprestasi.
  2. Perkembangan otak terhambat.
  3. ‎Rentan terhadap penyakit.
  4. ‎Saat dewasa mudah menderita kegemukan sehingga berisiko terkena penyakit jantung, diabetes dan penyakit tidak menular lainnya.
  5. ‎Di usia produktif, anak stunting memiliki penghasilan 20% lebih rendah dibandingkan anak yang tumbuh optimal.
  6. Stunting mempengaruhi tingkat inteligensi. Lebih banyak anak yang ber-IQ rendah di kalangan anak stunting dibandingkan anak yang tumbuh optimal.
  7. ‎Akibat stunting, negara mengalami kerugian mencapai sekitar Rp300 triliun pertahun. (RN)