Ternyata, Ini Alasan Lansia Cenderung Sensitif

Artikel ini telah direview oleh

Ternyata, Ini Alasan Lansia Cenderung Sensitif 

Ini Alasan Lansia Cenderung Sensitif
Foto: tirto.id

Merawat lanjut usia (lansia) bukanlah pekerjaan mudah. Seringkali orang yang merawat merasa gemas. Terkadang, sesuatu yang sebenarnya biasa saja bisa membuat mereka ngomel.

Menurut ahli syaraf, Yuda Turana, ini diakibatkan stressor sosial lebih banyak menumpuk pada orang lansia dibandingkan mereka yang masih berusia muda. “Penghasilan berkurang, anak yang tinggal serumah harus berbagi kasih dengan mantu, berita bahagia sama sedih banyak sedihnya, teman sebaya meninggal, pengalaman sakit. Stimulasi negatif ini trennya, ya, pada lansia,” ungkap Yuda.

Menurutnya, stimulasi eksternal yang serba negatif ini membebani lansia sehingga mereka umumnya lebih sensitif dalam merespons sesuatu. Kendati demikian, lansia tak melulu dekat dengan penyakit dan sikap mudah ngambek. Kondisi ini sebenarnya bisa disiasati sejak dini saat usia masih gemilang. “Untuk menghadapi, persiapannya bukan saat lansia, tapi pas masih muda. Kita harus sadar, suatu saat yang kita capai akan menurun semua,” tuturnya.

Yuda mengatakan bahwa riset membuktikan, aspek spiritual juga punya peran penting dalam kesehatan psikis lansia. Lansia dengan spiritualitas kuat disebut mampu bertahan dari stressor. Selain itu, Anda juga bisa menyiasatinya dengan menumbuhkan kesadaran bahwa hal-hal akan berubah seiring bertambahnya usia.

Baca juga:  Demensia Muncul Perlahan, Ini Tahapannya

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina ALZI Eva Sabdono menambahkan, saat usia bertambah, tumbuhkan kesadaran bahwa segala sesuatunya akan berbeda dengan saat masih muda. Misalnya, saat muda, Anda boleh saja memakan apapun yang diinginkan. Namun, hal tersebut tak lagi bisa dilakukan saat memasuki usia lanjut.

Menurut Eva, agar tetap sehat, lansia perlu mengurangi asupan lemak, gula, serta makan dengan porsi lebih sedikit. “Kita kudu sadar pencernaan kita sudah degeneratif, berkurang kemampuannya. Lalu membatasi aktivitas, tapi tetap olahraga. Dulu saya bisa lari, main voli, sekarang, ya, udah enggak bisa. Menyadari batas kemampuan kita,” pungkasya. (RN)