Waspadai Angin Duduk, Berbahaya Bagi Keselamatan Jiwa

Artikel ini telah direview oleh
Waspadai Angin Duduk, Berbahaya Bagi Keselamatan Jiwa
Foto: jawapos.com

Angin duduk atau istilah lainnya angina bisa dialami oleh siapa saja. Angina adalah nyeri dada yang muncul akibat terjadi gangguan aliran darah ke jaringan otot jantung. Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang terkena angin duduk. Secara medis, kondisi ini dikenal dengan istilah angina pectoris yang ditandai dengan rasa nyeri, tekanan, atau ketidaknyamanan di dada.

“Angin duduk atau angina pectoris terjadi ketika aliran darah ke jantung terbatas. Kondisi ini biasanya karena penyempitan atau penyumbatan arteri koroner yang memasok darah ke jantung,” kata Medical Doctor & Health Content Creator dr Kevin Mak.

Angina pectoris sering kali merupakan gejala penyakit jantung koroner, yang merupakan penyakit arteri koroner paling umum. Angin duduk, kata Kevin, bisa dikatakan sebagai kelainan nyeri dada yang biasanya dihubungkan dengan penyempitan pembuluh darah jantung akibat penumpukan kolesterol atau adanya penyumbatan.

Angin duduk terjadi karena berkurangnya aliran darah ke otot jantung. Darah mengandung oksigen yang sangat diperlukan oleh otot jantung. Penyebab paling umum berkurangnya aliran darah adalah penyakit jantung koroner. Penyakit ini terjadi ketika terdapat penumpukan lemak, atau plak, pada pembuluh darah yang memasok darah dan oksigen ke jantung.

Penumpukan plak ini juga dikenal dengan nama aterosklerosis. Ketika Anda beristirahat, otot jantung mungkin masih bisa mengatasi aliran darah yang berkurang tanpa memicu gejala angin duduk. Namun, angin duduk dapat terjadi ketika kebutuhan akan oksigen bertambah, misalnya, saat berolahraga atau beraktivitas berat.

Penyebab angin duduk

Adapun penyebab utama dari penyempitan atau penyumbatan arteri koroner yang menyebabkan angina pectoris adalah aterosklerosis, yaitu penumpukan plak di dinding arteri. Faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi ini dan akhirnya angina pectoris meliputi:

  1. Merokok
    Merokok adalah salah satu faktor risiko utama untuk aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.
  1. Hipertensi
    Hipertensi atau tekanan darah tinggi dapat merusak dinding arteri dan menyebabkan penumpukan plak aterosklerosis.
  1. Kolesterol tinggi
    Kolesterol tinggi dalam darah dapat menyebabkan penumpukan plak di arteri.
  1. Diabetes
    Diabetes meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis.
  1. Kurang aktivitas fisik
    Gaya hidup yang tidak aktif atau kurang berolahraga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
  1. Diet tidak sehat
    Diet tinggi lemak jenuh, garam, dan kolesterol dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
  1. Obesitas
    Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya aterosklerosis dan penyakit jantung koroner.
  1. Faktor genetik
    Riwayat keluarga dengan penyakit jantung koroner dapat meningkatkan risiko seseorang terkena angina pectoris.
  1. Usia
    Risiko penyakit jantung koroner meningkat seiring bertambahnya usia.
  1. Stres
    Stres kronis dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.
Baca juga:  Beda Gangguan Kejiwaan Pria dan Wanita

Sementara itu, ada beberapa tanda-tanda Anda terkena angin duduk atau angina pectoris di antaranya adalah rasa nyeri, tekanan, atau ketidaknyamanan di dada. Kondisi ini seringkali di belakang tulang dada atau di sekitar dada. Mereka yang mengalami angin duduk seringkali mengeluhkan sensasi terbakar, dan sesak napas. Gejala lainnya meliputi nyeri yang bisa menyebar ke leher, rahang, bahu, lengan, atau punggung, dan seringkali mereda dengan istirahat atau penggunaan obat nitrat.

“Beberapa gejala yang bisa dialami adalah nyeri dada di sebelah kiri yang menjalar sampai ke lengan, keringat yang berbutir-butir dan juga nyeri yang terasa seperti tertindih benda yang sangat berat,” jelasnya.

Disarankan bila ada tanda-tanda seperti ini kemungkinan besar kamu bisa mengalami serangan infark miokard akut alias serangan jantung akut. Segera bawa ke instansi kesehatan terdekat agar bisa mendapat pertolongan segera.

Ciri-ciri angin duduk

  • Sesak napas
  • Nyeri di bagian dada
  • Mual
  • Kelelahan
  • Pusing
  • Berkeringat banyak
  • Kecemasan

Diketahui, angin duduk memiliki tiga jenis gejala yaitu:

Angin duduk mikrovaskular, biasanya terjadi saat Anda menjalani aktivitas sehari-hari dan merasa stres. Jenis angin duduk ini dapat disertai sesak napas, gangguan tidur, kelelahan, dan kelesuan.

Angin duduk stabil, biasanya muncul selama aktivitas fisik, misalnya saat berolahraga atau menaiki tangga. Gejalanya akan mereda setelah Anda beristirahat atau meminum obat.

Angin duduk tidak stabil, muncul bahkan pada saat istirahat. Selain tidak terduga, angin duduk tidak stabil biasanya lebih parah dan berlangsung lebih lama daripada angin duduk stabil. Gejalanya bisa jadi tidak kunjung sembuh meski sudah beristirahat atau meminum obat. Kondisi ini bisa juga menandakan serangan jantung.

Baca juga:  Ada Gejala Sinusitis Tangani Segera Dengan Tepat

Untuk gejala yang bersifat sementara (stabil) hanya berlangsung hingga 15 menit dalam banyak kasus. Ini berbeda dengan angina tidak stabil, di mana rasa sakitnya bisa terjadi terus-menerus dan lebih parah. Bahkan dapat menyebabkan serangan jantung.

Sensasi nyeri yang terjadi selama episode angina stabil sering digambarkan sebagai tekanan atau rasa penuh di tengah dada. Seperti beban berat yang bertumpu di dada yang dapat menyebar dari dada ke leher, lengan, dan bahu.

Meskipun relatif umum dialami, namun nyeri di dada pada angin duduk bisa menyebabkan rasa ketidaknyamanan bagi seseorang sehingga menjadi salah satu ciri (gejala) yang perlu diwaspadai.

Ada beberapa tes diagnostik yang akan dilakukan guna mengidentifikasi angin duduk, yakni:

  1. Elektrokardiogram (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung menggunakan elektrode (plester plastik kecil yang ditempelkan ke kulit).
  2. Ekokardiogram, yaitu penggunaan ultrasonografi (USG) untuk mendapatkan gambar organ jantung.
  3. Uji ketahanan dengan olahraga, yaitu berlari atau berjalan di treadmill untuk menentukan seberapa baik respons jantung selama aktivitas fisik. Uji ketahanan ini dapat dikombinasikan dengan tes lainnya, seperti ekokardiografi.
  4. Tes darah untuk memeriksa kadar kolesterol, trigliserida, gula darah, dan faktor risiko penyakit jantung koroner lainnya.
  5. Rontgen dada untuk memeriksa kondisi lainnya yang mungkin dapat menjelaskan gejala yang dialami dan mengetahui ada tidaknya pembesaran jantung.
  6. Pencitraan resonansi magnetik jantung (MRI jantung), yaitu prosedur non-invasif menggunakan magnet dan gelombang radio untuk mendapatkan gambar organ jantung secara mendetail.
  7. Angiogram jantung dengan CT, yaitu pemindaian non-invasif menggunakan pewarna kontras untuk mendapatkan gambar arteri jantung secara mendetail.
  8. Angiografi jantung, yaitu prosedur invasif yang menggunakan pewarna kontras dan rontgen untuk melihat aliran darah dalam arteri jantung. (RN)