Selasa , 23 Oktober 2018
Home » Artikel » Waspadai Munculnya Fobia pada Anak

Waspadai Munculnya Fobia pada Anak

Waspadai Munculnya Fobia pada Anak

Foto: dok. makarame.com

Anak-anak bisa dikatakan rentan terhadap fobia. Fobia adalah rasa takut yang berlebihan pada sesuatu. Misalnya, anak takut bila berada di dalam ruangan yang gelap hingga menutup wajahnya dengan bantal erat-erat atau anak menjerit saat melihat kecoa di sekitarnya. Fobia dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang.

Menurut Yoice Bunga Midasari, psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), banyak penyebab munculnya fobia pada seseorang. Misalnya, pengalaman setelah mengalami musibah banjir, kebakaran, atau gempa bumi yang traumatis. Semua peristiwa itu terekam di alam bawah sadar.

Penyebab lainnya adalah pengaruh budaya. Orang Jepang, Cina, dan Korea, misalnya, sangat takut pada angka empat. Sedangkan orang Italia takut pada angka 17. Seperti halnya angka 13 bagi orang Barat, semua angka itu dianggap dapat membawa sial.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa fobia bisa ditularkan oleh orang tua, terutama ibu. Sebab, sosok ibu lebih memiliki kedekatan emosional dengan anak daripada ayah. Jika takut pada suasana gelap, misalnya, otomatis dan spontan si ibu mencengkeram tangan anak yang sedang digandeng atau memeluk anak yang sedang digendongnya erat-erat. Kejadian seperti ini membuat si anak ikut-ikutan takut.

Seringnya anak menonton tayangan film horor atau kriminal juga bisa menyebabkan timbulnya fobia, terutama pada anak yang sering menonton dengan frekuensi tinggi tanpa didampingi orang tua. Belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi, anak-anak hanya melihat sesosok gambar yang menakutkan. Ini diperparah dengan reaksi orang yang melihat sosok hantu dalam film tersebut yang berteriak-teriak ketakutan. “Ini semua terekam dalam alam bawah sadar anak,” kata Yoice.

Banyaknya tayangan televisi yang menyajikan film horor atau kekerasan tak ayal juga mempengaruhi kadar rasa takut anak-anak. Ironisnya, tak sedikit orang tua yang menjadikan cerita hantu untuk menakuti-nakuti anaknya. Misalnya, ketika anak berlarian di suatu tempat yang tidak dikehendaki, si orang tua berteriak, “Awas, jangan ke sana, nanti digigit setan!” Hal ini jelas semakin memperparah tingkat fobia si anak. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates