Waspadai Rinitis Alergi Bisa Munculkan Multimorbiditas

Artikel ini telah direview oleh
Waspadai Rinitis Alergi Bisa Munculkan Multimorbiditas
Foto: kompas.com

 

Rinitis alergi atau hay fever adalah salah satu jenis rinitis (peradangan pada lapisan dalam hidung) yang disebabkan oleh paparan suatu zat atau partikel pemicu alergi. Kondisi ini terjadi karena adanya reaksi berlebih (hipersensitivitas) dari sistem imun tubuh terhadap alergen tersebut sehingga kerap menghasilkan reaksi inflamasi lokal, terutama pada selaput dalam hidung.

Bersin dan pilek setiap pagi hari karena terpapar debu atau sebab lainnya bisa menjadi salah satu pertanda seseorang mengalami alergi pada hidungnya atau rinitis alergi. Rinitis alergi yang tidak terkontrol dan tidak kunjung sembuh bisa jadi ada penyakit penyerta lain atau multimorbiditas yang memengaruhi rinitis alergi.

Hal tersebut dikatakan Dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorokan RS UI dr. Niken Lestari Sp. THTBKL Subs. AI(K). “Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rinitis alergi tidak terkontrol. Pertama faktor penyakit lain, misal tidak sebatas di hidung, bisa seluruh saluran napas dan seluruh tubuhnya, diagnosis yang kurang tepat dan penyakit penyerta karena rinitis penyakit morbiditas, faktor lain dari pasien yang tidak taat dan patuh pada penggunaan obatnya,” kata Niken.

Menurutnya, rinitis alergi merupakan penyakit multimorbiditas yang bisa berujung pada penyakit lain pada organ pernapasan. Pada anak, rinitis alergi bisa menyebabkan hipertrofi tonsil adenoid yang letaknya di belakang hidung ikut membesar, ini yang menyebabkan hidung tersumbat karena ada pembengkakan.

Niken menjelaskan, sumbatan hidung yang kronik karena rinitis juga menyebabkan rinosinusitis dan asma karena sering bernapas melalui mulut. Asma, lanjut Niken, juga dapat mengganggu kualitas tidur anak yang berdampak pada metabolisme dalam tubuh dan memperburuk alergi.

“Selain itu bisa ada penyakit kulit dermatitis atopik dan esofagutis eosinifilik. Kalau ini semua ada tata laksananya beda dengan rinitis alergi biasa,” tambahnya. Pada kondisi tertentu jika penghindaran alergen seperti kontrol lingkungan atau obat tidak memberi respon membaik, ada modalitas lain, yakni pemberian imunoterapi dengan memberikan alergen dosis tertentu secara berkala sehingga ada kekebalan.

Baca juga:  Orangtua Waspadai Blue Whale Challenge

Niken mengatakan pemberian obat ini tidak bisa sebentar, minimal 3 tahun sehingga perlu kepatuhan dari pasien dengan edukasi ketaatan pasien dan keluarga. Kondisi lain bisa dilakukan tindakan bedah jika alergi pada dewasa seperti mengecilkan bagian rongga hidung yang membesar. “Atau kalau sangat sensitif sarafnya di blok sehingga berkurang hidung tersumbatnya, tata laksanya harus di edukasi kepada pasien karena harus ada ketaatan,” jelas Niken.

Gejala utama rinitis alergi hampir serupa dengan selesma atau common cold, yaitu pilek, hidung tersumbat, hidung gatal, bersin-bersin, batuk, hingga mata gatal dan berair. Namun, jika disebabkan oleh reaksi terhadap alergen, gejala tidak disertai dengan demam dan hanya timbul tepat setelah penderitanya terpapar oleh alergen.

Faktor bakat

Sementara itu, dokter spesialis anak dari RSCM, dr Wahyuni, Sp.A(K)., mengatakan kondisi akibat sensitivitas berlebihan pada hidung ini bisa karena faktor bakat sejak lahir atau lingkungan. Upaya yang bisa penderita lakukan adalah menghindari penyebabnya.

“Bakat itu sudah dibawa sejak lahir. Tetapi upayakan mengendalikan supaya gejala tidak muncul atau kalau muncul sangat ringan jadi tidak mengganggu aktivitas,” terangnya.

Misal, penyebab seseorang bersin-bersin adalah debu. Sebisa mungkim menghindari diri dari lingkungan berdebu. Bersihkan rumah secara rutin agar tidak ada debu, bulu hewan, atau jamur yang bisa menyebabkan alergi.

Apakah perlu konsumsi obat? Wahyuni berpendapat langkah ini bisa ditempuh asalkan sudah berusaha sebisa mungkin menghindarkan diri dari penyebab dan tergantung derajat keparahan alergi. Tentunya itu harus berdasarkan anjuran ahli kesehatan. “Dilihat kekerapan munculnya, misalnya enam bulan sekali atau setiap hari. Kalau terus menerus muncul, perlu pengobatan yang agresif. Kalau jarang, diberi obat saat muncul gejala,” serunya.

Hal senada dikatakan spesialis anak dari RSCM, dr Darmawan Budi Setyanto, Sp.A(K). Menurutnya, penggunaan obat antihistamin sama seperti obat demam. Bila gejala hilang, tak perlu konsumsi obat lagi.

Baca juga:  Jalan Cepat Bisa Perpanjang Usia

Sensitivitas alergen

Di sisi lain, peneliti dari Universitas Chang Gung di Taiwan telah mengeksplorasi adanya hubungan kadar vitamin D dengan sensitivitas alergen pada anak. Studi yang melibatkan 222 anak dari kelompok umur enam bulan, dua tahun dan empat tahun ini meneliti bagaimana hubungan kurangnya vitamin D mempengaruhi kemungkinan berkembangnya dermatitis atopik pada anak kecil.

Hasil dari studi tersebut, anak-anak yang berusia enam bulan dan 4 tahun dengan kadar vitamin D kurang dari 20 ng/ml mempunyai lebih banyak pemberian ASI eksklusif dan atopi ibu dibandingkan anak-anak dengan kadar vitamin D lebih dari 30 ng/ml. Atopi mengacu pada kecenderungan genetik untuk mengembangkan penyakit alergi termasuk rinitis alergi, asma, dan dermatitis atopik.

Eksim, juga dikenal sebagai dermatitis atopik, adalah kondisi kulit kronis yang ditandai dengan kemerahan, peradangan, gatal, dan iritasi. Anak-anak dengan dermatitis atopik memiliki kadar vitamin D yang lebih rendah pada usia 2 dan 4 tahun. Namun, suplementasi vitamin D lebih banyak ditemukan pada anak-anak penderita eksim pada usia enam bulan dibandingkan dengan anak-anak sehat pada usia yang sama.

Para peneliti juga mencatat bahwa sensitivitas alergen makanan lebih tinggi pada anak-anak dengan dermatitis atopik pada usia enam bulan dan 4 tahun, sedangkan sensitivitas tungau dan IgE lebih tinggi pada usia 2 dan 4 tahun. Hal ini disimpulkan alergi makanan dan atopi ibu diidentifikasi sebagai faktor risiko terbesar terjadinya dermatitis atopik pada anak usia 6 bulan. Namun, pada anak usia 2 dan 4 tahun, faktor risiko utamanya adalah kadar vitamin D dan sensitisasi alergi tungau.

“Kekurangan vitamin D sangat terkait dengan meningkatnya prevalensi sensitisasi alergen, yang berpotensi meningkatkan kerentanan terhadap dermatitis atopik pada anak usia dini,” tulis para peneliti. (RN)