
Persoalan kurang gizi pada anak di Indonesia masih mengemuka dan menjadi titik perhatian berbagai pihak. Selama ini kita mengenal istilah stunting yang berkaitan dengan tinggi badan anak yang tidak sesuai dengan usianya.
Data Perserikatan Bangsa-Banga (PBB) menyebutkan, lebih dari 149 juta (22%) alita di seluruh dunia mengalami gizi buruk. Sekitar 6,3 juta di antaranya adalah balita di Indonesia. Berdasarkan hasil survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022, ditemukan 21,6 persen balita mengalami stunting dan 7,7 persen balita mengalami wasting. Demikian juga data BKKBN (2022) menyebutkan, ada 21 juta keluarga di Indonesia beresiko stunting dan gizi buruk. Bahkan, di Jakarta sendiri, ada sekitar 22.000 anak yang mengalami stunting dan gizi buruk.
Jika selama ini kita sudah familiar dengan istilah stunting, problem lain yang tak kalah serius mengenai gizi buruk adalah wasting. Wasting sendiri adalah kondisi anak yang berat badannya menurun seiring waktu hingga total berat badannya jauh di bawah standar kurva pertumbuhan, atau berat badan berdasarkan tinggi badannya rendah (kurus) serta menunjukkan penurunan berat badan (akut) dan parah.
“Wasting berbeda dengan stunting. Kalau stunting kita bicara tentang tinggi badan, sedangkan wasting kita bicara soal berat badan. Tidak seperti stunting yang prosesnya kronis sampai kejadian, wasting ini bisa saja terjadi dalam waktu yang lebih singkat. Misal, anak sakit, diare, muntah-muntah. Lalu bisa juga karena asupan kalori jauh di bawah kebutuhan anak,” terang dokter spesialis anak dr. Miza Afrizal, SpA.
Istilah wasting belum banyak diketahui oleh khalayak. Persoalan wasting tidak dapat dianggap sepele karena jika penanganannya terlambat dapat berakibat fatal hingga menyebabkan kematian. Untuk mengantisipasi hal ini, orang tua perlu dibekali pengetahuan mengenai apa itu wasting guna mengenali gejalanya dan bagaimana cara mengantisipasinya.
Berisiko kematian
Kementerian Kesehatan RI menerangkan wasting adalah kondisi anak yang berat badannya menurun seiring waktu hingga total berat badannya jauh di bawah standar kurva pertumbuhan atau berat badan berdasarkan tinggi badannya rendah (kurus) dan menunjukkan penurunan berat badan (akut) dan parah. Pemicu wasting biasanya dikarenakan anak terkena diare sehingga berat badannya turun drastis tapi tinggi badannya tidak bermasalah. Kemenkes menilai, wasting tidak dapat dianggap sepele sebab jika penanganannya terlambat bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian. Anak yang mengalami wasting akibat kehilanngan berat badan secara akut dapat dimasukkan ke dalam kriteria anak kurang gizi atau underweight.
Dalam hasil survei yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2022 (SSGI 2022), terungkap bahwa di Indonesia 1 dari 12 anak balita mengalami wasting, dan 1 dari 5 anak balita menderita stunting.
Dijelaskan, anak yang mengalami wasting (gizi kurang dan gizi buruk) tampak sangat kurus. Mereka memiliki berat badan rendah jika dibandingkan terhadap tinggi badannya dan atau lingkar lengan atas (LiLA) kecil. Wasting biasanya terjadi ketika asupan diet anak tidak memadai, baik dari segi kualitas dan kuantitas dan/atau anak sering menderita penyakit infeksi. Dari semua bentuk masalah gizi pada anak, wasting memiliki risiko kematian tertinggi, khususnya gizi buruk berisiko meninggal hampir 12 kali lebih tinggi dibandingkan dengan anak gizi baik.
Namun, baik wasting dan stunting adalah masalah gizi yang saling terkait, dimana kedua bentuk masalah gizi ini memiliki faktor risiko yang sama dan saling memperburuk kondisi satu dan lainnya. Selain risiko kematian yang tinggi, anak wasting yang tidak ditangani dengan baik berisiko 3 kali lebih tinggi menjadi stunting dan anak stunting berisiko 1,5 kali lebih tinggi menjadi wasting dibandingkan dengan anak gizi baik. Risiko kematian akan meningkat jika anak mengalami dua permasalahan gizi ini (wasting dan stunting) secara bersamaan.
Dampak wasting
Ada sejumlah dampak yang ditimbulkan dari wasting, yakni:
- Kekebalan (sistem imunitas) tubuh rendah: Anak wasting, khususnya anak gizi buruk, memiliki sistem imunitas yang rendah sehingga mudah terkena penyakit infeksi seperti diare, batuk pilek, dan pneumonia. Dan, balita wasting bila menderita penyakit infeksi, maka kondisinya dapat lebih parah dan lebih sulit untuk sembuh dibandingkan anak gizi baik.
- Gangguan pertumbuhan fisik: Anak wasting berisiko mengalami gangguan pertumbuhan fisik, termasuk pertumbuhan tinggi badan, dikarenakan kurangnya asupan zat gizi yang diperlukan untuk bertumbuh. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, anak tersebut memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stunting, yaitu kondisi di mana tinggi badan lebih pendek bila dibandingkan anak seusianya.
- Gangguan perkembangan otak: Zat gizi adalah kunci penting dalam mendukung perkembangan otak balita. Sama seperti stunting, asupan gizi pada anak yang mengalami wasting juga terganggu, yang berisiko bagi perkembangan otak yang optimal, kemampuan belajar, serta produktivitas kerja di masa depan.
- Berisiko terkena penyakit tidak menular saat usia dewasa: Sama halnya dengan stunting, anak yang mengalami wasting memiliki risiko lebih tinggi untuk menderita penyakit tidak menular, seperti diabetes dan penyakit jantung, saat usia dewasa.
- Kematian: Dari semua bentuk masalah gizi anak, wasting, khususnya gizi buruk memiliki risiko kematian yang paling tinggi, yaitu hingga hampir 12 kali lebih tinggi dibandingkan anak gizi baik. Risiko kematian yang tinggi pada anak gizi buruk dikarenakan kekebalan (sistem imunitas) tubuh yang rendah sehingga bila menderita penyakit infeksi, maka kondisinya akan lebih parah dan lebih sulit untuk sembuh, serta dapat menyebabkan kematian.
Sementara itu, dr. Miza Afrizal, SpA memaparkan tentang apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya wasting pada anak, yaitu melalui Metode ABC.
A: Asupan yang cukup. Berikan asupan nutrisi sesuai kebutuhan kalori harian anak. Utamakan protein hewani seperti daging, ayam, ikan, dan lain-lain.
B: Berikan makanan yang berkualitas dan terjaga kebersihannya agar nutrisinya lengkap. Jika diperlukan berikan suplementasi vitamin tambahan.
C: Cek berkala berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak. Idealnya satu bulan sekali hingga anak berusia dua tahun dan minimal tiga bulan sekali untuk anak di atas dua tahun.
Tak lupa juga untuk mengecek apakah status imunisasi anak sudah lengkap sesuai umurnya. Selain pemenuhan nutrisi, untuk tetap dapat menjaga kesehatan anak dapat juga dilakukan dengan memberikan multivitamin tambahan secara rutin bila diperlukan agar nafsu makan tetap terjaga sehingga meningkatkan sistem imun mereka. Dengan daya tahan tubuh yang baik, tentu anak juga memiliki kesempatan untuk dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. (RN)
