
Dokter mata di kota New York, Amerika Serikat, mengingatkan pentingnya pemeriksaan mata secara teratur untuk deteksi dini demi mencegah degenerasi makula terkait usia (Age-Related Macular Degeneration/AMD) sebelum gejala muncul.
Dokter Hyon Kim, MD, menyarankan pemeriksaan mata rutin meliputi pemeriksaan retina yang dapat mendeteksi AMD secara dini. “Hal terpenting yang dapat dilakukan orang untuk mendeteksi AMD sejak dini adalah melakukan pemeriksaan mata secara teratur dan memastikan untuk menepati janji temu tindak lanjut,” Kim.
Akademi Oftalmologi Amerika merekomendasikan pemeriksaan mata rutin dimulai pada usia 40-54 tahun untuk orang dewasa yang tidak memiliki tanda atau faktor risiko penyakit mata setiap 2-4 tahun sekali. Sementara memasuki usia 55-64 tahun bisa memeriksakan kesehatan mata setiap 1-3 tahun sekali dan usia 65 ke atas setiap 1-2 tahun.
Orang dengan AMD mungkin kehilangan penglihatan sentral, tetapi mereka dapat melihat dari sisi mata mereka dan tidak buta sepenuhnya. Gejala umum AMD seperti penglihatan kabur atau buram, kesulitan mengenali wajah-wajah yang familiar, garis lurus terlihat bergelombang, area gelap, kosong atau titik buta yang muncul di tengah penglihatan.
Terdapat dua jenis degenerasi makula yakni AMD kering yang merupakan jenis paling umum dapat memengaruhi satu atau kedua mata dan berkembang perlahan melalui tahap awal, tengah, dan akhir.
Sementara AMD basah terjadi dari 10 hingga 15 penderita AMD kering dengan tanda yang lebih parah di mana pembuluh darah abnormal tumbuh di bawah makula dan retina, yang mengakibatkan kebocoran cairan atau darah. Kebocoran tersebut dapat menciptakan tonjolan di makula dan bintik hitam di tengah penglihatan.
“Pada tahap itu, tanpa pengobatan, hal ini dapat menyebabkan hilangnya penglihatan sentral secara total,” kata Kim.
Studi oleh National Eye Institute menemukan bahwa suplemen campuran vitamin C, vitamin E, lutein, seng, tembaga, dan zeaxanthin dapat memperlambat perkembangan AMD kering. Untuk AMD basah, pengobatan utamanya adalah suntikan anti-VEGF (faktor pertumbuhan endotel vaskular), yang dapat membantu mengurangi kerusakan akibat pembuluh darah abnormal dan menjaga penglihatan tetap stabil.
Kim mengatakan, perubahan apapun yang terjadi pada mata harus segera dikonsultasikan pada dokter mata, dan jalani pemeriksaan lanjutan rutin jika direkomendasikan.
Okuloplasti
Okuloplasti atau bedah plastik mata bukan semata-mata prosedur estetika, melainkan juga merupakan tindakan medis penting untuk menangani berbagai gangguan di area sekitar mata, termasuk kelainan kelopak mata, gangguan saluran air mata, hingga perubahan bentuk akibat trauma.
Dokter Spesialis Mata Subspesialis Orbita, Okuloplastik dan Rekonstruksi dari JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Dyah Tjintya Sarika, SpM, menjelaskan bahwa salah satu kondisi yang sering ditangani melalui prosedur ini adalah blefaroptosis atau ptosis, yakni kondisi kelopak mata yang turun hingga menutupi pupil dan mengganggu penglihatan.
“Ptosis terbagi menjadi tiga jenis, yaitu kongenital (sejak lahir), involusional (akibat penuaan), dan neurogenik (akibat gangguan saraf atau otot). Bila tidak ditangani, kondisi ini bisa berdampak pada kualitas penglihatan,” kata Dyah.
Menurut Dyah, penanganan ptosis dilakukan dengan menyesuaikan posisi kelopak mata agar sesuai dengan standar lapang pandang normal. “Kalau hanya satu mata, kita samakan dengan mata yang sehat. Bila dua-duanya, kita sesuaikan dengan ukuran bukaan mata yang normal. Semua ada patokannya,” ujarnya.
Senada dengan Dyah, dr. Indra Maharddhika Pambudy, SpM, menekankan bahwa fungsi utama kelopak mata adalah melindungi bola mata. Bila fungsi ini terganggu, risiko kerusakan mata meningkat.
“Salah satu yang perlu diwaspadai adalah ptosis pada anak sejak lahir karena bisa menyebabkan amblyopia atau lazy eye. Jika jalur visual tertutup sejak dini, maka perkembangan penglihatan anak akan terganggu secara permanen,” jelas Indra.
Ia menambahkan, penanganan dini sangat penting karena ptosis yang tidak diobati dapat menyebabkan penurunan tajam penglihatan secara permanen. Oleh karena itu, menurut dia, okuloplasti tidak bisa dipandang sebagai prosedur kosmetik semata.
“Prioritas utama adalah keamanan dan fungsi penglihatan. Estetika menjadi nilai tambah setelah aspek medis terpenuhi,” tegasnya. Terkait teknis tindakan, Dyah menyebutkan bahwa jenis anestesi menentukan apakah pasien perlu rawat inap. “Pada anak-anak biasanya menggunakan bius umum sehingga perlu perawatan. Sedangkan pada pasien dewasa, cukup dengan bius lokal dan bisa langsung pulang di hari yang sama,” ujarnya.
Dengan kemajuan teknologi bedah mikro, para dokter menegaskan bahwa prosedur okuloplasti kini aman dan menghasilkan tampilan mata yang natural. Mereka juga mengimbau masyarakat agar tidak menganggap operasi ini sebagai tindakan kosmetik semata.
“Di balik tindakan ini, ada tujuan medis yang sangat penting, yakni menjaga fungsi penglihatan pasien,” kata Dyah.
Apa itu mata merah?
Mata merah karena peradangan disebut juga uveitis yang merupakan kondisi serius pada mata, menjadi salah satu penyumbang angka kebutaan setelah katarak dan glaukoma, kata dokter subspesialis infeksi dan imunologi mata dr. Eka Oktaviani Budiningtyas Sp.M.
“Penyebab kebutaan (karena uveitis) sekitar 20-25 persen. Jadi memang itu world wide, jadi memang secara persentase sekitar itu,” jelasnya.
Dia mengatakan diagnosa kasus uveitis masih rendah karena kurangnya kesadaran pasien terhadap mata merah yang sering dianggap remeh atau masalah mata biasa. Meski jarang terdengar, uveitis adalah suatu kondisi peradangan pada tiga titik utama di dalam mata yakni uveitis anterior yakni mengenai bagian depan atau iris, intermediate atau pada bagian tengah dan posterior yang mengenai saraf mata seperti retina.
Vani menjelaskan kondisi ini bisa terjadi pada rentang usia produktif 20-60 tahun dengan gejala mata merah dengan cairan kental (belek) dan berair, sensitif terhadap cahaya, pandangan buram dengan atau tanpa mata merah, dan floaters atau bayangan di pandangan mata.
Menurutnya, yang paling sering harus ditanyakan ya, apakah gejala ini berulang, recurrent kita bilangnya, jadi kadang-kadang pasien suka bilangnya, ‘iya dok, udah sering nih dok, nanti hilang lagi, nanti muncul lagi’, nanti tuh udah harus curiga tuh, jangan-jangan uveitis.
Vani menjelaskan, mata merah yang terus berulang jangan dianggap sepele, karena semakin sering berulang maka akan semakin merusak struktur mata dari depan ke belakang dan menjadi peradangan kronik yang berat, sehingga muncul komplikasi seperti katarak, glaukoma, kerusakan retina yang berujung kebutaan.
Ia mengatakan uveitis perlu diwaspadai dari beberapa penyebab seperti infeksi bakteri atau virus, parasit sebesar 30-35 persen, auto imun sekitar 20 persen, trauma benda tumpul, dan idiopathic atau gejala yang tidak dapat diketahui sekitar 30-50 persen yang baru terdiagnosa.
“Kalau ada keluhan mata merah atau buram atau apapun, ingat mata kita cuma dua nih, satu kanan satu kiri, kalau salah satu aja rusak, pasti aktivitas akan terbatas. Jadi kalau ada keluhan mata apapun, segera berobat jangan kita ngobatin sendiri,” kata Vani.
Vani menegaskan jika ada infeksi seperti cacar, TB, trauma mata apapun yang menyebabkan radang, dan anak dengan juvenile idiopathic arthritis (JIA) untuk segera mengkonsultasikan ke dokter mata rutin setiap tiga hingga enam bulan sekali bahkan walaupun tidak ada penyakit penyerta. (RN)
