Kenali 3 Pilar Utama Mengobati Gagal Jantung

Artikel ini telah direview oleh

Kenali 3 Pilar Utama Mengobati Gagal Jantung

Kenali 3 Pilar Utama Mengobati Gagal Jantung
Foto: swara.id

Gagal jantung merupakan salah satu hal yang bisa mengancam nyawa. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui pengobatan dan pencegannya. Berdasarkan pedoman tatalaksana gagal jantung yang dikeluarkan oleh Perhimpunan Dokter Kardiovaskular Indonesia (PERKI) 2020, terdapat 3 pilar utama pengobatan gagal jantung yakni, Renin Angiotensin Aldosteron (RAS) blocker, Betablocker, dan Mineraloreceptor Antagonist (MRA).

Pengobatan-pengobatan tersebut sebagai lini pertama pengobatan gagal jantung kronik selama tidak ditemukan adanya kontraindikasi.

Pada akhir 2021, Kelompok Kerja (Pokja) PERKI mengeluarkan tulisan ilmiah mengenai Sodium Glucose Co-Transporter-2 Inhibitors (SGLT2-I). Ini direkomendasikan sebagai tambahan terapi pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri (FEVKi) ≤ 40 persen yang telah menerima terapi standar gagal jantung untuk menurunkan angka kematian dan risiko rawat inap berulang akibat perburukan gagal jantung.

SGLT2-I merupakan obat diabetes yang memiliki angka luaran positif pada pasien gagal jantung dengan atau tanpa diabetes tipe 2. Hal ini tampak pada studi yang menggunakan Dapagliflozin (obat penurun gula darah pada pasien diabetes tipe 2) penurunan mortalitas kardiovaskular atau rawat ulang akibat gagal jantung sebesar 26 persen.

Baca juga:  Kenali Berbagai Penyakit Tulang dan Persendian

Studi SGLT2-I lain yang menggunakan Empagliflozin (obat kontrol gula darah) menunjukkan penurunan 25 persen terhadap luaran gabung. Kedua studi tersebut menunjukkan posisi SGLT2-I sebagai bagian dari pengobatan gagal jantung dengan FEVKi ≤ 40 persen.

FEVKi adalah satu bentuk pengukuran untuk mengetahui seberapa banyak darah yang dipompakan keluar melalui ventrikel kanan jantung dalam setiap kontraksinya.

Tujuan pengobatan

Tujuan dari pengobatan pada pasien gagal jantung adalah untuk menurunkan angka kematian,menurunkan angka rawat inap berulang di rumah sakit, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Menurut Ketua Pokja PERKI dr. Siti Elkana Nauli, SpJP(K), FIHA, FAsCC, FHFA., meskipun saat ini sudah tersedia beberapa pilihan terapi gagal jantung yang tersedia, tapi masih ada kebutuhan lain. “Masih ada kebutuhan besar yang belum terpenuhi untuk terapi dalam hal menurunkan angka kematian dan mencegah rawat inap berulang akibat gagal jantung tersebut,” kata Nauli.

Ia menambahkan, pencegahan dan pengobatan gagal jantung merupakan tanggung jawab semua orang, termasuk masyarakat, tidak hanya petugas kesehatan. “Setiap pasien gagal jantung harus menjalani pengobatan yang optimal sesuai dengan bukti ilmiah dengan melihat profil dari masing-masing pasien,” jelasnya.

Baca juga:  Usia Bertambah, Kesehatan Perut Harus Dijaga

“SGLT2-i merupakan salah satu regimen terapi terbaru pada gagal jantung dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri ≤ 40% dan sudah tersedia di Indonesia. Bukti penelitian global menunjukkan efektivitas obat ini untuk menurunkan angka kematian dan rawat inap berulang akibat perburukan gagal jantung,” sambungnya. (RN)