Gigi Anak Goyang Haruskah ke Dokter

Foto: hellosehat.com

Memasuki usia enam tahun, anak akan mengalami masa tanggalnya gigi. Berubah, dari gigi susu ke gigi tetap.

Saat gigi anak goyang karena hendak tanggal, anak kerap merasa tidak nyaman. Membuat orang tua bimbang, apakah harus membawa anak ke dokter gigi atau sebaiknya menunggu saja sampai gigi susu tanggal dengan sendirinya.

Menurut drg Rahmita Nuraini, SpKGA., dari klinik Medikids Bintaro, gigi anak mulai tanggal di usia sekitar enam tahun. “Tergantung tumbuh kembang setiap anak. Biasanya gigi yang pertama tumbuh adalah gigi geraham pertama yang diikuti dengan gigi susu yang tanggal pertama kali, yaitu gigi seri depan bawah,” kata drg Rahmita.

Gigi susu harus copot untuk menyesuaikan dengan proses tumbuh kembang anak. Semakin seseorang bertumbuh besar, maka proses pengunyahannya juga semakin aktif. Sehingga gigi susu perlu digantikan dengan gigi tetap agar dapat tetap berfungsi secara optimal.

“Rata-rata usia gigi susu berganti seluruhnya adalah di usia 12 tahun,” kata Rahmita. Ketika gigi anak goyang dia menyarankan tetap melakukan perawatan gigi seperti biasa. Yakni dengan menjaga kebersihan gigi. Alias menyikat gigi seperti normal.

Bila urusan tanggalnya gigi anak tidak mengalami masalah, drg Rahmita menyarankan tidak perlu dibawa ke dokter. Katanya, gigi susu diharapkan tanggal secara alami.

Tapi, waspadai ketika gigi tetap sudah tumbuh sedangkan gigi susu belum tanggal. Ia menyarankan, untuk melakukan pencabutan di dokter gigi. Pencabutan ke dokter juga disarankan ketika gigi yang goyang dirasa sakit oleh anak. “Pencabutan bisa dilakukan bila tak kunjung tanggal secara alami,” ujarnya.

Sebenarnya, tidak ada batasan waktu tertentu untuk gigi yang mengalami kegoyangan. Rahmita memastikan, perkembangan setiap anak berbeda. Orangtua disarankan untuk selalu memperhatikan kesehatan gigi anaknya. Salah satu yang harus jadi perhatian adalah peiode erupsi gigi tetap dan kegoyangan gigi.

Agar anak tidak takut ke dokter gigi. Biasakan memeriksakan gigi secara rutin dan ketika giginya tidak dalam kondisi sakit. Saat gigi anak sudah sakit, maka akan meningkatkan kecemasan anak.

“Tips agar anak tidak takut dibawa ke dokter gigi adalah mulai memperkenalkan kunjungan ke dokter gigi sedini mungkin, yang dapat mulai dilakukan sejak usia satu tahun,” ujar Rahmita. Sebelum kunjungan, orangtua bisa mulai menyampaikan apa yang akan lakukan saat diperiksa di dokter gigi. Orangtua bisa menunjukkan gambar dari buku maupun video mengenai kunjungan ke klinik gigi.

Tips lain agar tidak takut ke dokter gigi bisa dilakukan melalui pemilihan klinik yang menyenangkan suasananya dan edukatif. Misalnya, ke klinik yang bertema rumah sakit bermain anak. Di sana biasanya anak bisa bermain peran sebagai dokter gigi cilik. Klinik gigi seperti itu bisa membuat anak merasa nyaman sehingga tidak merasa takut untuk berkunjung ke dokter gigi. (RN)