Ini Cara Mengatasinya Anak Alami Trauma

Ini Cara Mengatasinya Anak Alami Trauma
Foto: sehatfresh.com

Trauma pada anak bukan sesuatu yang mudah untuk diatasi. Anak yang pernah mengalami trauma harus diperhatikan secara khusus agar trauma yang ia rasakan tidak berkelanjutan.

Pasalnya, trauma pada anak dapat mengganggu perkembangannya, yang kemudian bisa terbawa sampai ia dewasa. Trauma pada anak bisa didapatkan dalam bentuk trauma fisik dan psikologis.

Trauma psikologis menyangkut pengalaman emosional yang menyakitkan, mengejutkan, menegangkan, bahkan terkadang mengancam jiwa si anak. Pengalaman ini bisa terjadi pada saat bencana alam, kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan terorisme. Dan trauma yang terjadi pada masa kanak-kanak dapat mempengaruhi perkembangan normal otak anak, termasuk pada ukuran bagian otak anak yang membantu mengontrol reaksi anak terhadap bahaya.

Pada masa usia anak sekolah, trauma dapat menunda kemampuan anak untuk bereaksi terhadap bahaya, seperti refleks kejut. Perubahan biologis yang terjadi dalam tubuh akibat trauma dapat mempengaruhi cara anak dan remaja menanggapi bahaya dan tekanan masa depan dalam hidup mereka, dan juga dapat berpengaruh pada kesehatan jangka panjang.

Tidak hanya berdampak secara biologis, trauma juga dapat berdampak pada emosional anak karena pada masa ini pula emosional anak sedang dalam tahap perkembangan. Masa anak adalah masa di mana anak sedang belajar mengenali emosi dan menangani emosi mereka dengan bantuan orangtua maupun pengasuh.

Ketika trauma terjadi pada masa ini, maka anak akan sulit mengenali emosi mereka. Ini dapat membuat anak menunjukkan emosinya secara berlebihan. Anak juga lebih cenderung untuk menyembunyikan perasaan mereka. Bagaimana cara mengatasi trauma pada anak? Reaksi anak terhadap trauma dapat ditunjukkan secara langsung maupun nanti, dan tingkat keparahan dari trauma ini pun bisa berbeda antar anak.

Anak-anak yang sudah mempunyai masalah kesehatan mental, pernah mengalami trauma di masa lalu, mempunyai dukungan yang sedikit dari keluarga dan lingkungan sekitar, dapat menunjukkan reaksi yang lebih terhadap trauma.

Tanda trauma yang ditunjukkan anak pun bisa berbeda-beda tergantung dari usia anak. Anak di bawah usia 5 tahun yang mengalami trauma akan menunjukkan tanda seperti ketakutan, terus “menempel” pada orangtua, menangis atau berteriak, merengek atau gemetar, diam saja, dan menjadi takut akan gelap.

Sedangkan, anak usia 6-11 tahun akan menunjukkan tanda seperti mengisolasi diri, menjadi sangat pendiam, mengalami mimpi buruk atau masalah tidur, tidak ingin tidur, mudah marah dan bisa berlebihan, tidak mampu berkonsentrasi di sekolah, mengajak teman berkelahi, dan kehilangan minatnya untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan.

Untuk mengatasi trauma pada anak ini, kita sebagai orangtua dapat melakukan beberapa hal, sebagai berikut:

  1. Melakukan hal-hal rutin bersama
    Ajak anak melakukan kegiatan rutin bersama, seperti makan bersama, nonton tv bersama, dan pergi tidur. Lakukan kegiatan sehari-hari ini seperti biasa. Hal ini memungkinkan anak merasa lebih aman dan terkontrol. Biarkan anak tinggal dengan orang yang akrab atau dekat dengannya, seperti orangtua dan keluarga.
  2. Anak butuh perhatian khusus dari orangtua
    Sesudah mengalami trauma, anak cenderung lebih tergantung pada orangtua, terutama ibu, sehingga sebagai ibu harus menyediakan waktu untuk anak. Beri anak pelukan agar ia merasa lebih aman dan nyaman. Jika mereka takut tidur, kita dapat menyalakan lampu kamar anak atau biarkan anak tidur bersama. Wajar bila anak ingin selalu dekat dengan orangtua sepanjang waktunya.
  3. Menjauhkan hal-hal yang berhubungan dengan penyebab trauma anak
    Caranya antara lain tidak menonton tayangan peristiwa serupa dengan yang membuatnya trauma. Hal ini hanya akan membuat trauma anak lebih buruk, anak dapat mengingat kembali apa yang terjadi, membuat anak takut dan stres.
  4. Pahami reaksi anak terhadap trauma
    Reaksi anak terhadap trauma berbeda-beda, bagaimana kita memahami dan menerima reaksi anak ini dapat membantu anak pulih dari trauma. Anak mungkin bereaksi dengan cara sangat sedih dan marah, tidak dapat berbicara, dan mungkin ada yang berperilaku seolah-olah tidak pernah terjadi hal menyakitkan terhadap dirinya. Beri anak pengertian bahwa perasaan sedih dan kecewa merupakan perasaan yang wajar mereka rasakan saat ini.
  5. Berbicara pada anak
    Dengarkan cerita anak dan pahami perasaan mereka, beri jawaban yang jujur dan mudah dimengerti anak jika ia bertanya. Jika anak terus bertanya pertanyaan yang sama, artinya ia sedang kebingungan dan sedang mencoba untuk memahami apa yang terjadi. Gunakan kata-kata yang membuat anak nyaman, bukan menggunakan kata-kata yang dapat membuat anak takut. Bantu anak dalam mengutarakan apa yang mereka rasakan dengan baik. Dukung anak dan beri ia rasa nyaman Anak sangat membutuhkan kita pada saat ini, temani setiap saat ia membutuhkan orangtuanya. Beri keyakinan pada anak bahwa ia bisa melewati hal ini dan juga katakan bahwa Anda sangat menyayanginya. (RN)