Kenali Gejala dan Dampak Hipotiroidisme

Kenali Gejala dan Dampak Hipotiroidisme
Foto: klikdokter.com

Ada berbagai masalah yang bakal muncul bila disfungsi tiroid tidak ditangani dengan tepat, seperti infertilitas, obesitas, nyeri sendi, dan penyakit jantung. Para ahli kesehatan telah memperingatkan bahwa hipotiroidisme yang tidak terdiagnosis (kelenjar tiroid yang kurang aktif) dapat mempersulit wanita untuk hamil. Oleh karena itu, memahami hubungan antara gangguan tiroid dan kesuburan sangat penting, terutama jika ingin merencanakan kehamilan.

Ada lebih dari 20% wanita di India yang hidup dengan masalah tiroid yang tidak terdiagnosis dan mereka bahkan tidak menyadari bahwa hal itu dapat menyebabkan infertilitas atau keguguran. Hipotiroidisme dapat memengaruhi banyak aspek berbeda dari menstruasi dan ovulasi, artinya dapat mempersulit untuk hamil jika berencana untuk memiliki bayi. Lantas apa hipotiroidisme dan bagaimana gejalanya?

Dilansir dari Tiems Now News, hipotiroidisme merupakan suatu kondisi di mana kelenjar tiroid tidak menghasilkan cukup hormon-hormon penting tertentu untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sebaliknya, hipertiroid adalah ketika tiroid menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid. Namun, memiliki salah satu dari gangguan ini dapat menyebabkan beberapa kasus, meskipun hubungan di antara mereka sangat kompleks.

Masalahnya adalah bahwa hipotiroidisme biasanya tidak menyebabkan gejala yang terlihat pada tahap awal. Tanda dan gejala kelenjar tiroid yang kurang aktif dapat bervariasi tergantung pada tingkat keparahan kekurangan hormon. Gejala umum mungkin termasuk berat badan bertambah, kelelahan, intoleransi dingin, sembelit, kulit kering, kelemahan otot, nyeri sendi, tingkat kolesterol tinggi, detak jantung melambat, rambut tipis atau rapuh, insomnia, suara serak, menstruasi yang tidak normal, wajah bengkak, kelenjar tiroid membesar, depresi hingga memori rusak.

Pada dasarnya, hipotiroidisme dapat terjadi karena sejumlah penyebab, termasuk penyakit autoimun, perawatan hipertiroidisme, terapi radiasi, operasi tiroid, kehamilan, defisiensi yodium, dan obat-obatan tertentu. Sementara, penyakit ini bisa menyerang saiapa saja, khususnya wanita, berusia lebih dari 60 tahun dan memiliki riwayat keluarga penyakit tiroid. Perawatan untuk hipertiroidisme meliputi tes TSH (hormon perangsang tiroid), rontgen dada, tes T4 atau tiroksin.

Namun, seorang dokter akan memilih jalur perawatan berdasarkan sejumlah variabel seperti penyebab mendasar dari hipertiroidisme, usia pasien, ukuran kelenjar tiroid dan adanya kondisi medis yang ada. Gangguan ini tidak dapat dicegah, namun dapat dikelola dan meningkatkan kesehatan dengan mempertahankan gaya hidup sehat, termasuk mendapatkan perawatan medis yang tepat, tidur yang cukup, makan makanan yang sehat, berolahraga secara teratur, mempertahankan berat badan yang sehat, menghilangkan stres, dan memperhatikan gejala awal dan mendapatkan bantuan yang diperlukan. (RN)