
Seiring kemajuan teknologi ada tiga metode skrining yang dapat dilakukan guna mendeteksi dini kanker kolorektal atau kanker usus besar, sehingga dapat menurunkan risiko terjadi kanker.
Sejauh ini, kolonoskopi menjadi metode skrining yang menjadi standar emas karena penyedia layanan kesehatan benar-benar dapat mengangkat polip yang ada di sel usus besar selama prosedur untuk menurunkan risiko kanker.
“Kolonoskopi memiliki beberapa keuntungan. Ini adalah layanan satu atap. Anda menjalani kolonoskopi, jika ada polip, kami akan mengangkatnya, dan selesai,” kata Robert Schoen, MD , seorang ahli gastroenterologi bersertifikat di UPMC dan profesor kedokteran di University of Pittsburgh.
Sebelum prosedur, pasien harus melakukan ‘usus’ untuk membersihkan usus besar. Bagian yang tidak nyaman dari proses ini membuat beberapa orang enggan menjadwalkan kolonoskopi. Penyedia layanan akan memasukkan tabung tipis dengan kamera kecil ke dalam anus pasien. Dalam prosedur ini mungkin memerlukan obat penenang selama prosedur yang mungkin tidak dapat bekerja selama satu hari.
Namun skrining ini memakan biaya yang cukup mahal sehingga pasien terutama berusia 45 tahun ke atas bisa berkonsultasi dengan penyedia layanan asuransi untuk biaya pengobatan.
Tes skrining berbasis tinja bisa menjadi alternatif yang baik untuk kolonoskopi karena pasien dapat melakukan tes ini di rumah tanpa melakukan persiapan usus.
Ada tiga jenis pemeriksaan berdasarkan tinja: tes DNA tinja (Cologuard), tes kekebalan tinja (FIT), dan tes darah okultisme tinja guaiac (FOBT). Cologuard mendeteksi perubahan DNA yang terkait dengan polip atau tumor, sementara FIT dan FOBT mencari tanda-tanda darah tersembunyi yang dapat menandakan polip atau kanker kolorektal.
“Jika hasil tes tinja positif, Anda harus menjalani kolonoskopi lanjutan. Dan sayangnya, ada banyak kasus di mana orang memiliki hasil tes positif, tetapi tidak menjalani kolonoskopi, jadi itu seperti peluang yang hilang,” kata Schoen.
Tes tinja tidaklah sempurna. Tes ini dapat melewatkan polip dan harus diulang setiap satu hingga tiga tahun. Dan, jika tidak melakukan kolonoskopi setelah hasil tes positif, maka pasien tidak akan mendapatkan manfaat penuh dari skrining dan pencegahan kanker.
Skrining kanker kolorektal lainnya dengan menjalani tes darah di klinik atau kantor dokter utama. Metode ini tidak diperlukan persiapan usus atau mengikuti diet khusus sebelum menjalani tes seperti yang di lakukan pada kolonoskopi.
“Ini dapat mengisi kekosongan praktis bagi orang-orang yang mungkin atau mungkin tidak bersedia menjalani kolonoskopi. Dan, sebagai manusia, Anda tidak dapat memberikan sampel tinja sesuai permintaan. Anda dapat dengan mudah melakukan (tes darah) di kantor perawatan primer Anda,” kata Pashtoon Kasi, MD , direktur medis GI Medical Oncology di City of Hope Orange County.
Tes darah menyediakan pilihan noninvasif bagi orang yang tidak ingin menjalani pemeriksaan kanker kolorektal. Namun, seperti tes tinja, hasil positif memerlukan kolonoskopi lanjutan. Tes darah ‘lebih baik daripada tidak sama sekali’, tetapi masih belum sebaik tes tinja atau kolonoskopi, kata Schoen. Tes darah hanya mendeteksi sekitar 12–13 persen polip stadium lanjut, imbuhnya.
Setiap tes memiliki kelebihan dan kekurangan. Pertimbangkan biaya, cakupan asuransi, dan seberapa sering harus mengulang setiap tes saat memutuskan tes mana yang tepat.
Penting untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan Anda tentang pilihan pemeriksaan. Bergantung pada riwayat keluarga atau faktor risiko tertentu, Anda mungkin perlu memulai pemeriksaan sebelum usia yang direkomendasikan yaitu 45 tahun.
Skrining rutin
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP., menyarankan agar masyarakat melakukan skrining rutin setidaknya setahun sekali untuk mendeteksi risiko terjadinya kanker usus besar atau kanker kolorektal.
“Sebetulnya sampai sekarang yang paling bisa kita lakukan masyarakat umum secara skrining adalah pemeriksaan kotoran. Periksakanlah kotoran Anda sekali setahun,” saran Aru.
Pemeriksaan itu disebut dengan pemeriksaan darah dalam tinja atau darah samar feses yang dapat dilakukan di laboratorium. Aru menjelaskan pemeriksaan ini hanya membutuhkan sampel feses dalam jumlah sedikit yang disimpan di dalam wadah sebelum diserahkan ke laboratorium.
Dia mengatakan jenis pemeriksaan ini merupakan skrining kanker usus besar yang paling murah di antara beberapa metode lainnya. Namun hambatannya, ujar Aru, pasien sering kali merasa enggan membawa sampel feses karena merasa jijik.
“Saya bisa meminta pada pasien saya untuk menghabiskan jutaan rupiah untuk pemeriksaan darah, tapi begitu dia harus membawa kotorannya ke laboratorium, dia tidak mau, jijik dan sebagainya. Akibatnya skrining menjadi gagal,” ujar dia.
Pemeriksaan disarankan untuk dilakukan sebanyak sekali dalam satu tahun mengingat perkembangan sel normal menjadi sel ganas membutuhkan waktu yang cukup lama antara 5 hingga 20 tahun. Mengingat waktu yang panjang ini, kata Aru, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak melakukan deteksi dini. Pemeriksaan feses dianjurkan dilakukan pada seseorang yang berusia 35-40 tahun. Selain itu, pada seseorang yang sudah berusia 45-50 tahun, Aru menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan kolonoskopi yang lebih akurat dibanding pemeriksaan feses.
“Bagi mereka yang mampu, maka pada usia 50 tahun paling lambat (pemeriksaan kolonoskopi). Walaupun saya usul 45 tahun, ya. Sudah harus menjalani kolonoskopi atau pemeriksaan endoskopi usus besar dari bawah, yang nanti diulang setiap 10 tahun atau 15 tahun,” kata Aru.
Jika dibandingkan, pemeriksaan feses bersifat lebih praktis serta mudah dan murah, sementara kolonoskopi memerlukan persiapan dan mahal dengan kelebihan hasil yang lebih akurat.
Perbandingan lainnya, pemeriksaan feses bermanfaat untuk menurunkan angka kematian secara luas, sementara kolonoskopi menurunkan angka kematian per orangan. Pemeriksaan feses seringkali positif palsu dan tumor yang terdeteksi kerap sudah agak besar, sementara kolonoskopi menghabiskan waktu dan harus dilakukan di rumah sakit.
“(Pemeriksaan feses) seringkali positif palsu. Seringkali dia positif tapi tidak ada tumornya, terutama kalau kita baru makan daging merah. Dan kalau sudah sampai ada darah dalam kotoran, artinya tumornya sudah agak besar, jadi kita tidak bisa benar-benar mendapatkan (tumor) dalam keadaan yang masih kecil sekali,” kata Aru.
Dibanding dengan skrining kanker lain, Aru mengatakan sayangnya hingga saat ini di Indonesia belum ada program skrining kanker usus besar dalam artian gerakan resmi. Mengingat hal tersebut, dibutuhkan kesadaran masyarakat atau individu untuk berinisiatif melakukan skrining kanker usus besar secara mandiri.
“Kalau ditanya apakah sekarang ada program skrining? Sebesar yang merupakan gerakan resmi tidak ada. Yang ada sekarang adalah gerakan individual bahwa setiap dokter disarankan untuk mengimbau pasiennya untuk menjalani pemeriksaan-pemeriksaan tersebut,” kata Aru. (RN)
