Sukses Menua di Masa Pandemi

Sukses Menua di Masa Pandemi
Foto: trubus.id

Sukses Menua di Masa Pandemi

Menjalani proses menua yang sukses, tidak hanya berarti sehat jiwa dan raga, namun juga memiliki kemampuan aktivitas fisik, daya pikir dan hubungan interpersonal atau interaksi sosial yang baik, serta kehidupan yang produktif.

Upaya menuju kondisi ini bisa dimulai sejak dini. Caranya, menerapkan gaya hidup sehat, konsumsi asupan gizi sehat seimbang dan latihan fisik rutin, menurut Purwita Wijaya Laksmi dokter spesialis penyakit dalam konsultan geriatri di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya.

Lalu, agar tetap sehat di usia lanjut, Purwita merumuskan BAHAGIA yang berarti Berat badan dijaga, Atur makanan seimbang, Hindari faktor risiko, Agar tetap berguna kembangkan hobi, Gerak badan teratur, Iman dan takwa ditingkatkan, serta Awasi kesehatan secara periodik.

“Proses menua merupakan hal yang pasti yang terjadi secara alami. Proses tersebut dapat berujung menjadi proses menua yang sukses, biasa saja, atau berada dalam kondisi dengan berbagai penyakit fisik dan mental sehingga membutuhkan bantuan orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari,” kata dia.

Baca juga:  Mengenali Jenis Kanker Prostat dan Cara Mengatasinya

Menurutnya, di masa adaptasi kebiasaan baru sekarang ini, lansia perlu diberi pengertian memadai mengenai kondisi ini melalui bahasa yang mudah dipahami. Sebaiknya jelaskan soal kerentanan mereka terkena Covid-19 akibat melemahnya sistem kekebalan tubuh lalu adanya penyakit kronik seperti diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, penurunan fungsi ginjal dan penyakit paru obstruksi kronik yang bisa meningkatkan risiko komplikasi penyakit.

Saat menjelaskan atau berbicara, ekspresi wajah Anda akan sulit dikenali ketika menggunakan masker dan dapat menimbulkan salah persepsi oleh lansia, maka saat berkomunikasi perlu mengedepankan bahasa non-verbal. “Posisi lawan bicara berada di dalam lapang pandang lansia dengan jarak terdekat yang tetap aman, menjaga kontak mata, bicara dengan melihat mata lawan bicara, tubuh condong ke lawan bicara, serta menjaga intonasi dan volume suara yang tepat perlu dilakukan untuk menunjukkan kesungguhan mendengarkan dan mencegah timbulnya gangguan komunikasi,” kata Purwita. (RN)