Terlalu Banyak Karbon Dioksida dalam Darah Akibatkan Hiperkapnia

Artikel ini telah direview oleh

Terlalu Banyak Karbon Dioksida dalam Darah Akibatkan Hiperkapnia

 

Terlalu Banyak Karbon Dioksida dalam Darah Akibatkan Hiperkapnia
Foto: republika.co.id

Terlalu banyak karbon dioksida dalam darah menandakan kondisi hiperkapnia. Ini biasanya terjadi akibat dari masalah tidak bisa bernapas secara benar. Ketika tubuh tidak mendapat cukup oksigen segar atau membuang karbon dioksida, tiba-tiba menghirup banyak udara untuk menyeimbangkan kadar antara keduanya.

Hiperkapnia juga bisa menjadi gejala dari kondisi mendasar yang mempengaruhi pernapasan dan darah. Gejala hiperkapnia terkadang bisa ringan. Tubuh secara cepat memperbaiki gejala ini untuk bernapas lebih baik dan menyeimbangkan kadar karbon dioksida.

Gejala ringan hiperkapnia seperti kulit memerah, mengantuk atau ketakmampuan untuk berkonsentrasi, sakit kepala ringan, pusing, sesak napas, kelelahan secara tidak normal.

Mengutip dari Verywell Health, penyebab hiperkapnia terjadi akibat produksi karbon dioksida yang berlebihan atau pengurangan pengembusan karbon dioksida dari paru-paru. Beberapa masalah kesehatan rentan memicu faktor risiko meningkatkan kemungkinan berkembangnya kondisi tersebut. Misalnya, hiperkapnia dari penyakit paru-paru kronis. Itu juga mungkin timbul dari penyakit saraf dan otot tertentu, gangguan metabolisme, dan masalah di bagian otak yang mengatur pernapasan.

Baca juga:  Atasi Gangguan ADHD Dengan Terapi Pijat Taktil

Hiperkapnia biasanya diketahui ketika tekanan karbon dioksida mencapai 45 milimeter air raksa (mm Hg) atau lebih. Terkadang hiperkapnia ringan sulit dikenali. Misalnya, gejala nonspesifik seperti sakit kepala, kelelahan, dan otot berkedut. Biasanya itu cepat hilang secara sendirinya.

Namun, gejala hiperkapnia yang parah, tubuh sulit mengembalikan keseimbangan karbon dioksida dan gejalanya lebih serius. Kondisi kesehatan yang mendasari biasanya memicu terjadinya hiperkapnia, sehingga harus cepat diperiksa untuk segera mendapat perawatan.

Beberapa faktor risiko hiperkapnia, biasanya orang yang sering merokok, atau karena usia. Banyak kondisi yang menyebabkan hiperkapnia bersifat progresif, biasanya tidak mulai menunjukkan gejala sampai setelah usia 40 tahun.

Orang yang asma juga rentan berisiko, terutama jika di lingkungannya sering menghirup asap atau bahan kimia. Misalnya sering berada di dekat pabrik listrik atau kimia juga menjadi faktor risiko. (RN)