Ternyata Bahan Kimia Parfum Bisa Timbulkan Masalah Kesehatan

Artikel ini telah direview oleh
Bahan Kimia Parfum Bisa Timbulkan Masalah Kesehatan
Foto: antaranews.com (Ternyata Bahan Kimia Parfum Bisa Timbulkan Masalah Kesehatan)

Ternyata, produk wewangian seperti parfum dapat mengandung bahan-bahan kimia yang bisa menimbulkan masalah kesehatan. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahan kimia seperti paraben dan fenol yang digunakan untuk memperpanjang masa simpan wewangian, serta ftalat, bahan kimia yang umum digunakan dalam wewangian, dikaitkan dengan masalah kesehatan seperti penyakit jantung dan hipertensi hingga masalah kehamilan dan kelahiran prematur. Ftalat digunakan sebagai pelarut dan penstabil dalam wewangian.

“Ftalat dikenal sebagai racun reproduksi,” kata Julia Varshavsky, PhD, MPH, asisten profesor kesehatan masyarakat dan ilmu kesehatan di Universitas Northeastern.

Beberapa ftalat serta paraben dan fenol merupakan pengganggu endokrin, dapat meniru, menghalangi, atau mengganggu hormon yang diproduksi oleh sistem endokrin tubuh. Dari tinjauan tahun 2021 terhadap studi pada manusia dan hewan diketahui bahwa paparan ftalat dapat merusak sistem neurologis, perkembangan, dan reproduksi manusia. Kontak dengan ftalat telah dikaitkan dengan masalah kesehatan orang pada semua umur, tetapi waktu yang paling sensitif untuk paparan ftalat adalah selama perkembangan janin menurut Varshavsky.

Sedangkan paraben telah dihubungkan dengan infertilitas pada perempuan. Namun, Varashavsky mengatakan bahwa sudah ada banyak penelitian khusus tentang efek ftalat pada sistem reproduksi pria. Menurut dia, paparan ftalat antara lain berhubungan dengan perkembangan sistem reproduksi pria, jumlah dan kualitas sperma rendah, cacat lahir seperti kriptorkismus (testis tidak turun ke skrotum), dan hipospadia, yang mempengaruhi uretra.

John Meeker, ScD, profesor ilmu kesehatan lingkungan di University of Michigan, mengatakan bahwa banyak penelitian awal tentang ftalat dilakukan pada hewan, tetapi hasil penelitian yang lebih baru pada manusia juga menunjukkan hasil yang konsisten.

Meeker mengatakan, kandungan bahan kimia dalam produk wewangian kadang tidak dicantumkan secara eksplisit pada kemasan.

Paraben biasanya muncul pada label kemasan sebagai metil paraben (MP), butil paraben (BP), etil paraben (EP), atau propil paraben (PP). Sementara ​​​​​​​ftalat dapat dicantumkan sebagai dietil ftalat, DEHP, DBP, BBP, atau DEP pada kemasan produk.

Guna meminimalkan risiko paparan bahan kimia yang dapat membahayakan, Meeker mengatakan, langkah pertama yang harus dijalankan adalah mengecek kandungan bahan kimia parfum pada label kemasan. Kalau produk parfum yang digunakan mengandung ftalat dan tidak ingin berganti produk, ia melanjutkan, maka sebaiknya berusaha mengurangi paparan bahan kimia ini dengan menggunakan produk kosmetik lain yang bebas ftalat.

Baca juga:  Kulit Tetap Elastis di Usia Senja

Ftalat memiliki waktu paruh yang sangat pendek, yang berarti waktu yang dihabiskannya di dalam tubuh relatif singkat. “Tubuh kita dapat membuang bahan kimia ini dengan sangat cepat, dalam rentang waktu satu hari atau kurang dan tidak terakumulasi secara biologis, itu kabar baik,” kata Stephanie Eick, PhD, asisten profesor dan ahli epidemiologi lingkungan dan reproduksi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Rollins Universitas Emory.

Dia menambahkan, namun, bahan kimia ini terdapat dalam begitu banyak produk sehingga paparannya cukup konstan. Efek paparan ftalat dapat dikurangi dengan membatasi penggunaan produk yang mengandung ftalat.

“Ini adalah masalah yang dapat dipecahkan. Jika kita menghilangkan paparan, kita dapat dengan sangat cepat mengeluarkannya dari tubuh kita,” kata Varshavsky merujuk pada efek paparan ftalat.

Kontak langsung dengan parfum atau wewangian dapat menimbulkan ruam gatal pada orang tertentu menurut Leow Yung Hian, konsultan senior dermatologi dari National Skin Centre Singapura.

Dia menyampaikan bahwa parfum atau wewangian yang terlalu kuat atau terlalu pekat dapat menimbulkan dermatitis kontak iritan, masalah kulit yang timbul akibat iritasi. “Siapa pun dapat mengalami dermatitis kontak iritan jika produk tersebut hadir dalam konsentrasi yang ‘salah’,” jelasnya.

Ia mengatakan bahwa reaksi kulit lain yang dapat timbul akibat pemakaian parfum yakni dermatitis kontak alergi, di mana pasien alergi terhadap wewangian tertentu. Orang yang alergi terhadap wewangian tertentu bisa mengalami ruam gatal jika mendapat paparan wewangian secara berulang. Menurut Dr. Christopher Foo, seorang spesialis dermatologi dan konsultan di Raffles Skin & Aesthetics, reaksi kulit bisa disebabkan oleh bahan kimia yang terkandung dalam parfum. “Dan parfum yang berbeda mengandung berbagai macam zat kimia yang berbeda pula,” katanya.

Baca juga:  Lansia Alami Penurunan Nafsu Makan

Jason Lee, pendiri dan CEO Six Scents, mengatakan bahwa alergi pada kulit dan hidung sering kali muncul akibat senyawa sintetis seperti musk atau bahan pengawet buatan. “Bahkan beberapa minyak esensial alami, meskipun murni, dapat menyebabkan iritasi pada kulit sensitif karena sifatnya yang terkonsentrasi,” katanya.

Berikut bahan-bahan parfum yang menurut dia bisa menimbulkan reaksi alergi jika kandungannya melebihi batas konsentrasi.

  1. Minyak kulit kayu manis dikenal karena khasiatnya yang menghangatkan, tetapi dapat menyebabkan iritasi atau kemerahan kulit pada sebagian orang.
  2. Minyak serai sering digunakan karena beraroma segar, tetapi dapat memicu kekeringan dan sensitivitas kulit pada individu tertentu.
  3. Minyak peppermint populer karena efek mendinginkannya, tetapi bisa menimbulkan rasa geli atau terbakar pada kulit yang sensitif.
  4. Minyak cengkeh bermanfaat karena punya sifat antiseptik. Namun, jenis minyak ini mungkin terlalu kuat dan berpotensi menyebabkan iritasi kulit bagi sebagian orang.
  5. Minyak pohon teh yang umumnya digunakan untuk mengatasi jerawat dan antimikroba berpeluang menimbulkan kulit kering atau iritasi pada orang tertentu.

Lebih jauh Dr. Foo menyampaikan bahwa reaksi alergi tidak langsung terjadi begitu kulit terkena paparan parfum atau wewangian. Beberapa paparan pertama belum akan menimbulkan reaksi. Namun, sistem kekebalan tubuh kemudian akan mengenali parfum sebagai zat berbahaya setelah kulit kena paparan berulang kali, sehingga timbul ruam.

Kalau penggunaan parfum tertentu menimbulkan rasa gatal dan ruam yang tidak terlalu parah, Dr. Foo menyarankan produk tersebut tidak digunakan lagi. “Obat bebas seperti krim hidrokortison, yang merupakan steroid topikal anti-inflamasi, mungkin cukup untuk meredakan reaksi jika reaksinya ringan,” katanya.

Dia menyarankan pengujian sampel parfum pada kulit sebelum menggunakannya. Menurut Lee, cara terbaik untuk menguji wewangian adalah dengan menyemprotkan sedikit wewangian pada pergelangan tangan atau siku bagian dalam dan membiarkannya meresap selama beberapa jam. “Wewangian berevolusi seiring reaksi kimia kulit Anda, jadi apa yang berbau harum pada selembar kertas mungkin akan sangat berbeda di kulit Anda setelah beberapa saat,” kata Lee. (RN)