Dukung Pertumbuhan Anak di 2021, Buat Resolusinya

Dukung Pertumbuhan Anak di 2021, Buat Resolusinya

Artikel Anak
[caption id="attachment_7809" align="alignleft" width="300"] Foto: jawapos.com[/caption] Dukung Pertumbuhan Anak di 2021, Buat Resolusinya Di masa pandemi Covid-19 ini, ada beberapa tantangan besar yang akan dihadapi anak seperti keterbatasan aktivitas di luar rumah maupun pembelajaran jarak jauh secara digital. Untuk itu, di 2021 ini peran orangtua kian penting dalam mendukung anak untuk tetap tumbuh optimal serta memiliki emosional baik di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda. Bila pertumbuhan anak yang optimal jadi salah satu resolusi tahun baru Anda, simak lima rekomendasi dari pakar-pakar di bawah ini: Perhatikan nutrisi untuk pencernaan anak Nutrisi yang seimbang dapat memperkuat kesehatan pencernaan, otak, hingga emosionalnya, sehingga dapat memberikan dampak positif yang menyeluruh bagi tumbuh kembang anak. Ahli Gizi dan Penulis Buku tentang Gizi, Dr. Rita Ramayulis mengatakan untuk mencapai pertumbuhan yang menyeluruh, orangtua dapat mulai…
Read More
Bikin Anak Tetap Aktif di Dalam Rumah

Bikin Anak Tetap Aktif di Dalam Rumah

Artikel Anak
[caption id="attachment_7797" align="alignleft" width="300"] Foto: merdeka.com[/caption] Bikin Anak Tetap Aktif di Dalam Rumah Anak harus memiliki ruang gerak yang cukup, tidak hanya orang dewasa. Untuk itu, orangtua harus memutar otak untuk mencari cara agar buah hati bisa tetap aktif meski mereka sementara ini tak bisa berlarian dengan teman-temannya di lapangan sekolah atau bermain di luar rumah. Dokter spesialis anak Noor Anggrainy memberi saran untuk orangtua agar bisa mengajak anak dari berbagai rentang usia bisa aktif meski di dalam rumah. Untuk anak usia di bawah satu tahun, anak bisa diajak bermain di lantai yang sudah diberi alas dan durasi yang direkomendasikan adalah 30 menit. Coba lakukan sesi rutin tummy time di mana anak berbaring di atas perutnya selama beberapa waktu. Pastikan anak dalam keadaan terbangun dan selalu dalam pengawasan Anda. “Bisa…
Read More
Kulit Anak Alergi? Kenali Ciri dan Cara Merawatnya

Kulit Anak Alergi? Kenali Ciri dan Cara Merawatnya

Artikel Anak
[caption id="attachment_7794" align="alignleft" width="300"] Foto: popmama.com[/caption] Kulit Anak Alergi? Kenali Ciri dan Cara Merawatnya  Berbeda dengan orang dewasa, anak memiliki kulit yang lebih tipis dengan imunitas yang belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan terhadap gangguan yang bisa berujung kepada alergi. Menurut, dr. Armansjah Dara Sjahruddin, dokter spesialis kulit dan kelamin, lapisan kulit anak lebih tipis ketimbang orang dewasa. Fungsi kulit sebagai pelindung tubuh juga belum maksimal seperti orang dewasa karena lebih tipis, juga karena sistem imunitas anak yang masih berkembang. Dia menjelaskan kelainan kulit yang kerap terjadi kepada bayi dan anak, seperti dermatitis atopik yang membuat kulit ruam kemerahan, bersisik, lecet dan gatal. Anak juga bisa mengalami dermatitis seboroik, di mana kulit terlihat bersisik dan muncul ketombe karena kulit terkelupas. Pada bayi yang baru lahir, ini terjadi karena pengaruh hormon…
Read More
Tingkatkan Kepekaan Orangtua Atasi Gangguan Mental Anak

Tingkatkan Kepekaan Orangtua Atasi Gangguan Mental Anak

Artikel Anak
[caption id="attachment_7498" align="alignleft" width="300"] Foto: popmama.com[/caption] Tingkatkan Kepekaan Orangtua Atasi Gangguan Mental Anak  Gangguan mental pada anak sulit terlihat. Untuk itu, Orangtua harus lebih peka terhadap hal ini. Riskesdas 2018 menemukan bahwa prevalensi gangguan mental emosional remaja usia di atas 15 tahun meningkat menjadi 9,8% dari yang sebelumnya 6% pada 2013. Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat, 15% anak remaja di negara berkembang berpikiran untuk bunuh diri, di mana bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar ketiga di dunia bagi kelompok anak usia 15–19 tahun. Menurut Annelia Sari Sani Spsi., psikolog anak, gangguan mental pada usia anak hingga remaja dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk menyebabkan masalah pada perilaku, gangguan emosional dan sosial, gangguan perkembangan dan belajar, gangguan perilaku makan dan kesehatan, hingga gangguan relasi dengan orang…
Read More
Ciptakan Kebahagiaan Pada Anak Meski Belajar di Rumah

Ciptakan Kebahagiaan Pada Anak Meski Belajar di Rumah

Artikel Anak
[caption id="attachment_7480" align="alignleft" width="300"] Foto: republika.co.id[/caption] Ciptakan Kebahagiaan Pada Anak Meski Belajar di Rumah Pola asuh anak berubah, terutama saat menjalani new normal akibat pandemi Covid-19. Sejatinya, hal tersebut menjadi perhatian orangtua agar tidak salah asuh yang bisa berakibat buruk. Menurut dokter tumbuh kembang anak Dr dr Ahmad Suryawan SpA(K), orangtua dan anak sedang menghadapi berbagai tantangan zaman, salah satunya menghadapi masa transisi atas perubahan pola hidup yang besar akibat pandemi. Kondisi kesehatan, psikis, dan sosial anak sangat rentan di tengah situasi saat ini. “Menjadi sangat penting bagi orangtua untuk menjaga kesehatan semua anggota keluarga dengan membangun sistem imun tubuh yang kuat dengan mengonsumsi gizi seimbang. Susu merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik yang mudah diserap tubuh demi membantu terpenuhinya kebutuhan gizi harian buah hati,” ungkapnya. Selanjutnya, dokter yang…
Read More
Kenali Gejala ADHD Pada Anak

Kenali Gejala ADHD Pada Anak

Artikel Anak
[caption id="attachment_7477" align="alignleft" width="300"] Foto: golife.id[/caption] Kenali Gejala ADHD Pada Anak Gangguan ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder merupakan gangguan perkembangan otak yang dapat mengakibatkan seorang anak sulit untuk memusatkan perhatiannya, serta memiliki perilaku impulsif dan hiperaktif. Sayang, orang-orang di sekitar anak dengan ADHD tidak menyadari bahwa anak tersebut memiliki gangguan, lalu menilainya sebagai anak nakal ataupun malas karena tidak dapat berkonsentrasi dan tak mau diam. Padahal sikap tersebut merupakan beberapa gejala dari gangguan ADHD. Adapun gejala-gejala lain dari ADHD yaitu sulit berkonsentrasi atau memusatkan perhatian, berperilaku impulsif dan hiperaktif, serta tidak bisa diam dan selalu ingin bergerak. Pada umumnya, ADHD memberikan dampak negatif pada prestasi anak di sekolah dan juga kehidupan sosialnya. Berbagai karakteristik kehidupan seorang anak dengan ADHD di sekolah yang dapat dilihat adalah kinerja akademik rendah (misalnya…
Read More
Anak Belajar di Rumah, Waspadai Terkena Kelainan Refraksi

Anak Belajar di Rumah, Waspadai Terkena Kelainan Refraksi

Uncategorized, Artikel Anak
[caption id="attachment_7468" align="alignleft" width="300"] Foto: sindonews.com[/caption] Anak Belajar di Rumah, Waspadai Terkena Kelainan Refraksi  Pola pembelajaran di rumah di masa pandemi ternyata bisa melahirkan masalah, utamanya bagi anak-anak. Menurut dr. Anissa Nindhyatriayu Witjaksono, BMedSc (Hons), Sp.M yang merupakan spesialis mata RSUI, ada beberapa solusi yang bisa dilakukan untuk orangtua ketika anak harus menggunakan gadget terlalu lama di saat pandemi seperti ini, yaitu dengan metode 20-20-20. Artinya, “Metode 20-20-20 yaitu 20 menit melihat gadget (hp atau laptop) dan 20 detik istirahat melihat atap langit-langit atau benda jauh sekitar 6 meter (20 kaki),” katanya. Dr. Anissa merekomendasikan penggunaan gadget pada anak di masa new normal hanya difokuskan untuk keperluaan sekolah, sementara aktivitas hiburan harus dialihkan dengan kegiatan lain. Dikatakannya, sebenarnya penggunaan gawai pada anak tidak menjadi masalah, karena gadget (HP/laptop) tidak berdampak…
Read More
Bikin Anak Penderita Kanker Betah di Rumah

Bikin Anak Penderita Kanker Betah di Rumah

Artikel Anak
[caption id="attachment_7472" align="alignleft" width="300"] Foto: beritasatu.com[/caption] Bikin Anak Penderita Kanker Betah di Rumah Mendampingi anak pasien kanker di rumah tentu bukan perkara mudah. Menurut Nelly Hursepuny Mpsi, psikologi di Rehabilitasi Medik RS Kanker Dharmais, Jakarta. Anak dengan kanker yang merasa cemas dan stres, akan semakin menurun daya tahan tubuhnya. Menurut Nelly, penurunan daya tahan tubuh ini harus dihindari. “Untuk mengurangi kecemasan, sebaiknya orang tua dengan anak penderita kanker tetap berkonsultasi secara rutin dengan dokter, tentang kondisi si anak. Apakah perlu isolasi total, atau seberapa aman membawa anak pasien kanker pergi ke rumah sakit,” saran Nelly. Anak yang baru menjalani kemoterapi, memiliki daya tahan tubuh lemah sehingga perlu ektsra penjagaan dari penularan berbagai penyakit, termasuk Covid-19. Caranya, tambah Nelly, dengan memantau asupan gizi dan minum dan obat yang perlu dikonsumsi agar…
Read More
Alergi Pada Anak Tingkatkan Risiko Penyakit Degeneratif

Alergi Pada Anak Tingkatkan Risiko Penyakit Degeneratif

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_7247" align="alignleft" width="300"] Foto: tribunnews.com[/caption] Alergi Pada Anak Tingkatkan Risiko Penyakit Degeneratif - Alergi pada anak ternyata cukup berbahaya. Sebab, alergi bahkan dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi, dan sakit jantung. Hal ini dikemukakan Konsultan Alergi dan Imunologi Anak Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr, SpA(k), M.Kes. “Anak dengan alergi juga dapat mengalami keterlambatan pertumbuhan apabila terlambat diagnosa dan penanganan kurang optimal. Sementara dampak ekonomi yang harus dihadapi keluarga adalah meningkatnya biaya pengobatan dan biaya tidak langsung,” urai Prof. Budi. Anak dengan alergi cenderung memiliki rangkaian penyakit alergi seiring bertambahnya usia, bahkan diturunkan ke generasi berikutnya. Sehingga alergi penting untuk dideteksi dan dicegah sejak dini dengan menelusuri riwayat alergi keluarga serta pemberian nutrisi yang tepat untuk mendukung sistem imun yang lebih baik. ASI serta nutrisi lengkap dan seimbang…
Read More
Anak Alergi, Simak Cara Deteksinya

Anak Alergi, Simak Cara Deteksinya

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_7245" align="alignleft" width="300"] Foto: shimajiro.id[/caption] Anak Alergi, Simak Cara Deteksinya - Alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap sesuatu yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak. Bisa berupa substansi yang masuk atau bersentuhan dengan tubuh (alergen). Beberapa jenis substansi yang dapat menyebabkan reaksi alergi meliputi gigitan serangga, tungau debu, bulu hewan, obat-obatan, makanan tertentu, serta serbuk sari. Saat tubuh pertama kali berpapasan dengan sebuah alergen, tubuh akan memproduksi antibodi karena menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya. Jika tubuh kembali berpapasan dengan alergen yang sama, tubuh akan meningkatkan jumlah antibodi terhadap jenis alergen tersebut. Hal inilah yang memicu pelepasan senyawa kimia dalam tubuh dan menyebabkan gejala-gejala alergi. Alergi bisa menimbulkan dampak psikologis bagi anak dan orangtua. Penelitian menyebutkan, anak alergi dapat mengalami gangguan seperti daya ingat, kesulitan bicara, konsentrasi berkurang, hiperaktif,…
Read More