Maksimalkan Pertumbuhan Anak, Beri Menu Padat Gizi

Maksimalkan Pertumbuhan Anak, Beri Menu Padat Gizi

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6707" align="alignleft" width="300"] Foto: .dictio.id[/caption] Pilihan makanan yang kurang bergizi serta literasi gizi yang masih rendah, menjadi bagian yang mempengaruhi ketidakseimbangan kualitas asupan zat gizi sehari-hari. Sayang, hal ini masih belum dipahami para orangtua. Sementara, orangtua memiliki peran krusial dalam menyusun menu padat gizi. Hal ini untuk mendukung pertumbuhan maksimal, salah satunya dengan memastikan pemenuhan kebutuhan pangan hewani. “Untuk meningkatkan minat dan daya terima anak pada asupan bergizi, orang tua juga perlu cerdas dalam mengolah menu makanan yang sehat juga praktis. Di samping itu, aneka bahan pangan lokal pun dapat dimanfaatkan untuk mencapai pemenuhan gizi seimbang, dengan membuat variasi terutama mengganti bahan yang sudah biasa digunakan dengan pangan lainnya,” kata Pakar Dietisien, Geetruida D. Rory, SKMRD. Dia mencontohkan, penggunaan santan yang dapat diganti dengan susu sapi. Pemanfaatan susu sebagai paduan…
Read More
Anak Rentan Batuk Pilek? Ini Penyebabnya

Anak Rentan Batuk Pilek? Ini Penyebabnya

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6684" align="alignleft" width="300"] Foto: theasianparent.id[/caption] Anak kecil rentan terkena batuk pilek. Kondisi sistem kekebalan tubuh anak kecil yang masih berkembang membuat mereka belum mampu menerima paparan kuman yang begitu banyak dan bertebaran di lingkungan sekitar. “Kenapa anak kecil mudah batuk pilek. Ya, karena kuman yang jenisnya jutaan itu belum 'dikenal' semua oleh tubuhnya. Beda dengan kita yang hidup 20 atau 30 tahun. Tubuh kita sudah terbiasa dengan paparan kuman. Itulah kenapa kita (orang dewasa) tidak mudah sakit atau serentan anak kecil dan bayi,” papar dokter spesialis anak Kanya Fidzuno. Pada prinsipnya, ketika ada kuman masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan kita akan berupaya mengenali kuman asing. Secara normal, tubuh mulai beradaptasi dengan kuman. “Kalau kita pertama kali terpapar suatu kuman, misalnya, bisa saja kita langsung sakit. Tapi begitu tubuh…
Read More
Cegah Stunting, Perhatikan Protein yang Dikonsumsi Anak

Cegah Stunting, Perhatikan Protein yang Dikonsumsi Anak

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6681" align="alignleft" width="300"] Foto: medcom.id[/caption] Sumber protein, baik hewani maupun nabati, memiliki pengaruh positif apabila diberikan saat anak berusia enam bulan atau mulai mengonsumsi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Hal ini dikatakan Pakar gizi dari Universitas Indonesia, Prof Dr dr Saptawati Bardosono MSc., di Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurutnya, energi total yang masuk ke tubuh si kecil berkontribusi sebesar 40 persen agar anak tidak stunting. “Kalau protein (saja) 34 persen, tapi kalau protein yang berkualitas sudah 40 persen. Kalau kita gabung (dari sumber makanan lain) menjadi 43 persen,” kata Saptawati. Salah satu sumber protein adalah susu. Oleh sebab itu, Saptawati menganjurkan kepada para ibu agar memasukkan kegiatan minum susu di periode pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pemberian susu dan sumber protein lainnya di periode tersebut akan merangsang pertumbuhan…
Read More
Jangan Langsung Panik Bila Anak Demam!

Jangan Langsung Panik Bila Anak Demam!

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6669" align="alignleft" width="300"] Foto: mommyasia.com[/caption] Ketika seorang anak berada dalam kondisi demam, orangtua bakal panik dan mencari segala cara. Kadang orangtua bakal memberi obat terlebih dahulu, sedangkan beberapa orangtua langsung membawa anak ke dokter. Lantas, kapan sebenarnya orangtua harus membawa anak ke dokter ketika demam? Pada anak-anak, demam terjadi ketika suhu tubuh berada di atas 38 derajat Celsius. Sedangkan pada bayi, kategori demam ketika suhunya di atas 37,5 derajat Celsius. Cara paling tepat untuk mengukur suhu tubuh adalah dengan menggunakan termometer. “Demam harus dipastikan dengan memeriksa suhu tubuh menggunakan termometer. Karena seringkali kita menemukan perbedaan suhu pada kepala dan kaki. Jadi untuk memastikan, harus diperiksa melalui termometer,” kata dokter spesialis anak konsultan Nina Dwi Putri live Instagram Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Anak yang memiliki penyakit bawaan seperti kelainan…
Read More
Anak Sembelit? Kenali Masalahnya

Anak Sembelit? Kenali Masalahnya

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6666" align="alignleft" width="300"] Foto: otcdigest.id[/caption] Kondisi sembelit atau sulit buang air besar merupakan hal yang biasa terjadi dan tak kenal usia. Pada anak-anak, masalah ini bisa sangat mengganggu dan membuat orangtua cemas. Buang Air Besar (BAB) merupakan fase akhir dari proses pencernaan. Ketika sisa-sisa makanan yang sudah termetabolisme oleh tubuh mengalami berbagai proses, ampasnya akan dikeluarkan dalam bentuk feses. “Kesulitan untuk mengeluarkan feses inilah yang kita sebut sebagai sembelit,” ucap Dr. Ade Djanwardi Pasaribu, ahli gastrohepatologi anak. Pada anak-anak, kondisi ini begitu menganggu. Perut bisa terasa sakit dan anak mengalami kesulitan untuk mengeluarkan fesesnya yang sudah menumpuk dan keras. “Ketika feses mengeras dan anak mengalami kesulitan BAB, perut akan terasa sakit. Itu bisa saja mengurangi keinginan anak untuk BAB,” tambah Dr. Ade. Umumnya, bayi yang baru lahir biasanya akan…
Read More
Waspadai, Bullying Pada Anak Akibatkan Trauma Panjang

Waspadai, Bullying Pada Anak Akibatkan Trauma Panjang

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6650" align="alignleft" width="300"] Foto: dream.co.id[/caption] Bullying atau perundungan di media sosial merupakan salah satu masalah yang muncul seiring kemajuan teknologi. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang panjang pada korbannya bahkan berujung trauma. “Kalau dulu bully dilakukan secara langsung, bisa dari verbal maupun fisik. Tetapi sekarang, kita tidak perlu berada di ruangan yang sama, orang bisa mem-bully dan melukai perasaan seseorang,” ucap pendiri Sudah Dong, komunitas gerakan anti-bullying Katyana Wardhana. Kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial membuat seseorang terkadang lupa bahwa cyber bullying merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dan memiliki efek jangka panjang. “Media sosial bisa digunakan tanpa nama asli, itu membuatnya menjadi lebih mudah melakukan cyber bullying. Ini juga bisa berdampak jangka panjang, karena cyber bullying memang tidak menyerang fisik seseorang, tetapi menyerang hati (perasaan),” tambah Katyana. Sementara itu,…
Read More
Kiat Mengatasi Malnutrisi Pada Anak gizi?

Kiat Mengatasi Malnutrisi Pada Anak gizi?

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6647" align="alignleft" width="300"] Foto: republika.co.id[/caption] Dua masalah kesehatan utama yang mempengaruhi anak-anak secara global adalah obesitas dan kurang gizi. Obesitas pada anak disebabkan karena pilihan gaya hidup modern seperti konsumsi makanan kemasan, kurang aktivitas fisik dan lebih banyak waktu menonton. Sedangkan, istilah malnutrisi sering digunakan untuk merujuk pada individu atau anak-anak yang kekurangan berat badan, lemah, atau pertumbuhannya terhambat. Lantas kapan seorang anak disebut kurang gizi? Dilansir dari Times Now News, seorang anak disebut kekurangan gizi ketika ada kekurangan nutrisi yang cukup di tubuhnya. Malnutrisi dapat disebabkan karena tidak makan cukup sebagai akibat dari tidak tersedianya makanan, tidak makan yang benar, hal-hal yang bergizi, dan atau ketika tubuh tidak mampu menyerap makanan yang dikonsumsi oleh orang tersebut. Namun, menurut definisi gizi buruk diberikan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), kekurangan…
Read More
Anak Suka Bermedsos, Bisa Alami Permasalahan Mental

Anak Suka Bermedsos, Bisa Alami Permasalahan Mental

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6630" align="alignleft" width="300"] Foto: ndobuzz.com[/caption] Media sosial telah lama diketahui bisa menyebabkan masalah bagi seseorang. Beragam dampak mulai gangguan psikologi hingga masalah fisik bisa terjadi ketika kamu terlalu banyak bermain media sosial. Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa ternyata terdapat bahaya lebih banyak dari penggunaan media sosial ini dibanding yang selama ini diketahui. Dilansir dari Medical Daily, peneliti menyebut bahwa keberadaan remaja secara daring (online) bisa membuat mereka terpapar sejumlah faktor yang bisa secara signifikan mempengaruhi kesehatan mental mereka. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada jurnal The Lancet Child & Adolescent Health. Diketahui bahwa media sosial menyakiti pola tidur seseorang, aktivitas fisik, serta meningkatkan paparan mereka terhadap bullying. Masalah yang muncul pada pengguna media sosial ini ketika dilakukan cukup sering bisa menyebabkan masalah mental. Bullying yang diamali oleh anak dan remaja…
Read More
Bikin Anak Lebih Bertanggungjawab, Simak Saran Psikolog

Bikin Anak Lebih Bertanggungjawab, Simak Saran Psikolog

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6627" align="alignleft" width="300"] Foto: sekolahdasar.net[/caption] Banyak orangtua yang tak menginginkan anaknya mengalami kesulitan seperti yang mereka alami pada masa lalu. Salah satu mantra yang biasa didengungkan orangtua adalah bahwa yang terpenting anak harus sekolah, biar orangtua yang bekerja keras. Namun rupanya cara ini tidak baik untuk diterapkan. Psikolog anak dan remaja Oktina Burlianti mengatakan, orangtua selalu bilang, ‘Dulu itu bapak susah. Bapak harus kerja keras, harus begini. Pokoknya tugas kamu sekarang hanya belajar dan harus lebih sukses dari bapak’, pemikiran ini salah. Banyak orangtua yang berpikir bahwa dengan memenuhi kebutuhan sekolah, anak dapat menjadi lebih sukses darinya dan akhirnya membiarkan anak terlena dengan kehidupan bebas masalah. “Kenapa bapaknya bisa sukses karena dulu hidupnya kerja keras, dulu hidupnya susah, makanya dia bisa sukses. Anak juga harus ditempa juga oleh kehidupan,…
Read More
Sering Terkena Diare, Jiwa Anak Terancam

Sering Terkena Diare, Jiwa Anak Terancam

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6612" align="alignleft" width="300"] Foto: parenting-dream.com[/caption] Pada anak-anak, ketika mereka mengalami diare, hal ini mungkin bisa menyebabkan masalah serius. Hal ini bisa membuat anak kehilangan cairan sehingga bisa berdampak dehidrasi. Kasus terburuk, hal ini bisa menyebabkan kematian pada mereka. “Kehilangan cairan pada anak lebih bermakna daripada orang dewasa. Karena dalam tubuh anak terdapat lebih banyak cairan, kehilangan beberapa persen saja bisa menyebabkan dehidrasi dan mengancam keadaan jiwanya,” ucap dokter spesialis anak dan konsultan gastrohepatologi, Ade Djanwardi Pasaribu. Seseorang terkena diare jika frekuensi buang air besar (BAB) melebihi batas normal dirinya sehari-hari. “Jika seseorang biasa BAB sebanyak 5 kali sehari, dan keesokan harinya tetap 5 kali itu tandanya normal. Tetapi, kalau biasanya 5 kali lalu menjadi 10 kali itu enggak normal,” ucap Ade. Penyebab diare bisa karena virus. Ditandai dengan diare…
Read More