Faktanya Polusi Udara Ancam Kesehatan Ginjal

Faktanya Polusi Udara Ancam Kesehatan Ginjal

Artikel Umum, Artikel
Polusi udara diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronik (PGK). Temuan ini diungkapkan oleh tim peneliti dari University of Michigan dalam jurnal PLOS ONE. Tim peneliti mengungkapkan polusi udara sama seperti halnya asap rokok. “Seperti asap rokok, polusi udara mengandung toksin berbahaya yang dapat secara langsung mempengaruhi ginjal,” ungkap ahli epidemiologi dari Michigan Medicine sekaligus ketua peneliti Jennifer Bragg Gresham MS PhD seperti dilansir Science Daily. Polusi udara mengandung partikel halus atau PM2.5 yang hampir tidak memiliki bobot. Karena hampir tidak memiliki bobot, PM2.5 bisa bertahan di udara lebih lama sehingga ada kemungkinan partikel halus ini terhirup tanpa disadari. PM2.5 diketahui dapat menyebabkan efek kesehatan yang serius jika sering terhirup. Analisis data dari klaim Medicare dan data kualitas udara dari Center for Disease Control and…
Read More
Wahai Perempuan Sayangi Tulang Anda

Wahai Perempuan Sayangi Tulang Anda

Artikel Umum, Artikel
Kebiasaan minum alkohol dalam jumlah banyak berisiko terhadap kesehatan, khususnya bagi kesehatan tulang. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Studies on Alcohol and Drugs seperti dikutip dari Shape, mengungkapkan mengungkapkan bahwa wanita dewasa muda yang menikmati minuman keras akan berisiko lebih tinggi mengalami kesehatan tulang yang buruk di masa depan. Untuk penelitian ini, lebih dari 80 mahasiswi ditugaskan untuk mengisi survei yang merekam aktivitas fisik dan kebiasaan minum mereka. Selain itu, mereka juga diminta untuk menjalani pemindaian tulang. Dengan menggunakan informasi ini, para peneliti menyimpulkan bahwa peminum berat (memiliki empat atau lebih minuman dalam dua jam) ditemukan memiliki massa tulang yang lebih rendah di tulang belakang. Ini adalah penyebab umum nyeri pinggang bawah. Periode penting antara 20 dan 25 tahun adalah ketika massa tulang…
Read More
Atasi Kolesterol Jahat Dengan 9 Langkah Berikut

Atasi Kolesterol Jahat Dengan 9 Langkah Berikut

Artikel Umum, Artikel
Kolesterol adalah substansi yang diproduksi oleh hati dan terbentuk karena konsumsi produk hewani, seperti daging-dagingan, susu, dan telur. Mengonsumsi lemak jenuh, lemak tak jenuh dan gula bisa meningkatkan kadar kolesterol. Kolesterol pun memiliki tipe berbeda. Ada kolesterol HDL yakni kolesterol baik yang memberi manfaat bagi tubuh. Ada pula kolesterol LDL, yang ketika teroksidasi bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, serangan jantung, serta stroke. Kolesterol LDL yang teroksidasi cenderung akan menempel pada dinding arteri, dan membentuk plak yang menyumbat pembuluh darah. Meski kamu memiliki angka kolesterol LDL tinggi, hanya dengan cermat memilih makanan, kamu bisa menurunkan risiko penyakit. Makanan kaya serat larut Soluble fiber atau serat yang mudah larut bisa ditemukan pada kacang-kacangan, biji-bijian utuh, apel, sitrus, dan lainnya. Kita direkomendasikan untuk mengonsumsi sedikitnya 5-10 gram…
Read More
Kenali Food Coma dan Pencegahannya

Kenali Food Coma dan Pencegahannya

Artikel Umum, Artikel
Food coma adalah kondisi superlemas yang dialami setelah kita makan terlalu banyak. Ketika mengalami food coma biasanya seseorang merasakan kelelahan dan lesu yang sangat hebat, hingga beberapa jam setelah makan. Pada saat tersebut, kita merasa tak bisa melakukan kegiatan apa pun, perut begah, dan cenderung mengantuk. Dikutip dari verywellfit.com, food coma atau postprandial somnolence adalah kondisi nyata yang diteliti para ilmuwan. Terdapat beberapa teori yang menyebutkan penyebab dari food coma. Misalnya, food coma terjadi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi tryptophan, yakni asam amino yang terdapat di beberapa produk daging dan susu. Ketika asam amino dikonsumsi bersama dengan makanan tinggi karbohidrat, makanan tersebut akan mudah masuk ke otak, dan meningkatkan level serotonin. Serotonin adalah neurotransmitter yang meningkatkan rasa rileks bahkan malas ketika level serotonin melambung.…
Read More
Merasa Lebih Muda Bikin Panjang Umur

Merasa Lebih Muda Bikin Panjang Umur

Artikel Umum, Artikel
Mereka yang cenderung merasa lebih muda dari usia kronologis umumnya memiliki umur yang panjang. Diyakini, perasaan masih muda bisa membantu harapan hidup lebih panjang, khususnya bagi mereka yang telah lanjut usia (lansia). Agar merasa lebih muda bisa dilakukan dengan cara mengontrol diri. “Pada hari-hari ketika Anda merasa lebih terkontrol untuk Anda - Anda cenderung merasa lebih muda,” kata peneliti psikologi di Friedrich Schiller University di Jerman, Jennifer Bellingtier  seperti dilansir dari Time. Dalam penelitian ini, Bellingtier melibatkan 116 responden usia dewasa berusia 60-90 tahun dan 106 responden dewasa berusia 18-36 tahun. Survei tersebut dilakukan Bellingtier selama sembilan hari setiap hari. Peneliti memberikan beberapa pertanyaan pada setiap responden. Diantaranya terkait usia para responden, bagaimana mengendalikan kehidupan dan apa yang mereka rasakan hari itu. Saat hari…
Read More
Sering-seringlah Telepon Orangtua, Jika Tidak, Buruk Akibatnya!

Sering-seringlah Telepon Orangtua, Jika Tidak, Buruk Akibatnya!

Artikel Umum, Artikel
Kesibukan di masa kini kerap menyedot waktu yang tidak sedikit. Begitu juga tenaga dan pemikiran seseorang. Tak heran, tidak sedikit anak yang menjadi lupa pada orangtuanya lantaran kesibukannya. Akibatnya, kita semakin jarang berkomunikasi dengan mereka. Padahal, jasa orangtua sungguh besar bagi kehidupan kita. Dan kita tak mungkin sanggup membayarnya. Kurangnya perhatian pada orangtua ini, menurut sebuah riset dari University of California-San Francisco, ternyata berdampak besar pada kesehatan mereka. Riset dilakukan selama 6 tahun dengan meneliti 1600 orang dewasa dengan rata-rata usia 71 tahun. Peneliti menganalisa rasa kesepian, penurunan fungsi tubuh, dan tingkat kematian yang terjadi pada subjek penelitian. Hasilnya, periset menemukan bahwa 23 persen peserta riset meninggal dalam kesepian dalam 6 tahun. Sementara itu, hanya 14 persen peserta riset yang wafat dengan tingkat kasih…
Read More
Waspadai Kesepian Berdampak Lansia Kurang Gizi

Waspadai Kesepian Berdampak Lansia Kurang Gizi

Artikel Umum, Artikel
Kesepian ternyata bisa menyebabkan peningkatan jumlah orang tua yang menderita kelaparan dan kekurangan gizi. Berdasarkan riset, epidemi kesepian mengakibatkan banyak orang makan sendirian. Dan, hampir 1,2 juta orang berusia di atas 75 tahun mengalaminya. Hampir seperlima orang berusia di atas 75 tahun wafat setelah tiga bulan atau lebih hidup tanpa seseorang untuk makan bersama. Dan, satu dari 10 orang mengaku mereka kurang nafsu makan karena tak ada teman untuk makan bersama. Dilansir dari laman Express, riset ini dilakukan oleh pusat penelitian penuaan dan demensia, Bournemouth University, Inggris. Survei dilakukan terhadap 1.013 orang berusia di atas 50 tahun. Hasil survei menemukan lebih dari seperempat orang berusia 75 tahun percaya mereka tidak membutuhkan makanan sebanyak dulu. Sekitar 20 persen orang memasak makanan mereka sendiri dan lebih…
Read More
Penting Perhatikan Nutrisi Zat Besi Pada Anak

Penting Perhatikan Nutrisi Zat Besi Pada Anak

Artikel, Artikel Umum
Salah satu penyakit yang kerap menyerang anak-anak adalah anemia . Ini adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau konsentrasi pengangkut oksigen dalam darah (Hb) tidak mencukupi kebutuhan fisiologis tubuh. Berdasarkan laporan Anemia Convention 2017, ada 85 persen populasi di Asia Tenggara dan Afrika yang menderita anemia. Kaum perempuan serta anak-anak menjadi penderita terbanyak. Untuk itu, langkah pencegahan harus dilakukan. Bagi anak-anak, pencegahan bisa dimulai lewat pengaturan pola makan sejak dini. Nutrisi menjadi faktor penting agar anak tidak terkena anemia. “Faktor terbanyak adalah nutrisi. Kita harus memperhatikan kandungan zat besi,” kata Dr. Murti Andriastuti Sp.A(K). Kandungan zat besi bisa diperoleh dari lauk pauk. Contohnya adalah daging merah dan sayuran. Anak sebaiknya mengonsumsi makanan tersebut sejak berusia 6 bulan. “Kandungan lauk pauk lebih tinggi dari karbohidrat. Daging merah…
Read More
Mungkin Nostalgia Tidak Mengenakan Tapi Bisa Menyehatkan Mental

Mungkin Nostalgia Tidak Mengenakan Tapi Bisa Menyehatkan Mental

Artikel Umum, Artikel
Sebuah ingatan akan masa yang telah lalu, alias nostalgia, bisa membawa kembali rasa bahagia, kenangan pahit, atau rasa rindu. Namun, kita semua akan sulit menghindari munculnya nostalgia. Nostalgia bisa muncul dari hal-hal kecil, seperti fitur pengingat dari Facebook, wangi parfum, atau mendengar sekilas lirik lagu tertentu, yang kemudian membuat perasaan bergejolak karena mengingat sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu. Para pakar psikologi mempelajari nostalgia dan meyakini bahwa secara umum emosi ini memiliki efek positif yang kuat terhadap kesehatan mental. Meski demikian, terkadang nostalgia bisa terasa sebagai ketakutan ketimbang kenyamanan. Faktanya, nostalgia juga bisa diartikan sebagai kondisi psikologis yang menyebabkan kecemasan, insomnia, dan depresi. Mengapa nostalgia bisa sangat membuat nyaman, namun juga sangat mengerikan? Jawabannya rumit, namun itulah nostalgia. Pertama-tama, kita perlu memahami mengapa…
Read More
Kenali Pemicu Kanker di Sekitar Kita

Kenali Pemicu Kanker di Sekitar Kita

Artikel Umum, Artikel
Hasil riset yang dipimpin oleh peneliti dari Universite Sorbonne di Paris menyatakan, terlalu banyak mengonsumsi makanan olahan dapat meningkatkan risiko kanker. Demi mendapatkan hasil yang akurat, periset meneliti catatan medis, dan kebiasaan makan lebih dari 100.000 orang dewasa. Periset juga mendaftar asupan khas mereka dari 3.300 jenis makanan yang berbeda. Makanan yang melalui pemrosesan terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit kanker. Makanan tersebut termasuk kue, nugget ayam, roti yang diproduksi massal, minuman bersoda, manisan, dan daging olahan. Semua makanan itu umumnya mengandung zat aditif, perasa, dan pengawet, serta tinggi gula, lemak, dan garam. Seperti dilansir laman CNBC, dalam riset yang telah diterbitkan dalam British Mendical Journal, terlihat ada peningkatan jumlah makanan olahan sebesar 10 persen dalam diet responden. Hal tersebut ternyata mampu meningkatkan risiko…
Read More