
Sebagai orangtua, tidak boleh berkecil hati bila sang buah hati mengalami telinga kecil (mikrotia). “Kesiapan psikologis orangtua perlu diperhatikan untuk menghadapi anak dengan mikrotia. Karena kondisi psikologis orangtua itu sangat berperan penting dan dapat dirasakan oleh anak. Anak itu bisa merasakan kalau orangtuanya sedang cemas atau tidak terima terhadap situasi tertentu,” kata Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok (THT) di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) Prof Dr dr Mirta Hediyati Reksodiputra, Sp.THT-BKL, Subsp.FPR(K).
Dijelaskan, mikrotia merupakan kelainan yang menyebabkan daun telinga bayi tidak terbentuk sempurna sehingga terlihat lebih kecil daripada daun telinga normal. Oleh karena itu, mikrotia juga disebut telinga kecil. Mirta menuturkan bahwa penting bagi orangtua dengan anak penderita mikrotia untuk memiliki acceptance atau menerima situasi yang terjadi dengan lapang dada sebelum berdiskusi dengan anggota keluarga lainnya mengenai penanganan anak dengan mikrotia, misalnya perencanaan operasi dan sebagainya.
Selain kondisi psikologis orangtua, aspek psikologis pada anak pun harus diperhatikan agar dia tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Anak yang terlahir dengan mikrotia perlu memahami bahwa dia memiliki kelebihan. “Anak harus menjadi seorang manusia yang berjiwa besar dan dia juga perlu tahu bahwa walaupun dia punya kelainan, tapi, dia juga punya kelebihan,” ucapnya.
Mirta percaya bahwa setiap orang memiliki bakatnya masing-masing. Bersama orang tua, anak bisa mengembangkan bakatnya agar dia dapat menjalani aktivitasnya sehari-hari tanpa merasa rendah diri di hadapan teman-temannya. “Jadi, jangan kecil hati. Pasti akan ada jalan dan pasti kita bisa mengatasi itu secara bersama-sama,” serunya.
Sementara itu, Pendiri Indonesian Microtia and Atresia Community (IMAC) Anita Putri Ayu menuturkan bahwa adanya rasa sedih saat pertama mengetahui kondisi anak adalah hal yang wajar. “Boleh sedih, boleh kecewa, tapi, kita tetap harus bisa bangkit, dan pada waktunya nanti kita harus dapat mempertimbangkan apa yang harus diperbuat,” kata Anita.
Oleh karena itu, dia menyarankan orangtua yang memiliki anak dengan mikrotia untuk berkomunikasi dengan pasangan dan anggota keluarga dekat lainnya agar saling menguatkan. “Kita juga punya komunitas, jadi itulah yang mendukung kita bahwa kita memang tidak menghadapi ini sendiri,” ujar Anita.
Jalani operasi
Di sisi lain, Mirta Hediyati menyatakan bahwa anak dengan mikrotia atau telinga kecil perlu diberi pemahaman sebelum menjalani operasi. “Karena ini adalah suatu long journey (proses yang panjang). Jadi, operasi mikrotia itu bukan seperti operasi tonsil atau operasi kecil lain yang hanya dua hari atau dua minggu kontrol lalu semuanya selesai,” terangnya.
Dia menguraikan, proses operasi bagi penderita mikrotia harus dilakukan dalam beberapa tahap. Jika mikrotia yang diderita tidak terlalu parah, maka dapat dilakukan otoplasty, yaitu operasi untuk memperbaiki bentuk dan ukuran daun telinga. Namun, jika mikrotia yang diderita ada pada tahap lanjut, maka perlu dibuat implan daun telinga dari tulang rawan iga maupun biomaterial buatan.
Meskipun begitu, dokter spesialis THT tersebut menyarankan implan yang digunakan adalah yang berasal dari tulang rawan iga pasien karena akan lebih mudah diterima oleh jaringan tubuh pasien itu sendiri. Karena terbuat dari tulang rawan iga, maka pembuatan implan tersebut disarankan untuk dilaksanakan saat anak berumur 6-8 tahun dengan lingkar dada mencapai 60 sentimeter (cm).
Menurut Mirta, pada usia ini anak sudah memiliki tulang rawan iga yang cukup untuk dibentuk menjadi implan dan ukuran daun telinganya pun sudah mencapai 80 persen dari ukuran daun telinga orang dewasa. Sementara itu, ia tidak menyarankan orang-orang berusia di atas 30 tahun untuk melakukan implan daun telinga dengan tulang rawan iga karena pada umur tersebut, tulang rawan umumnya sudah mengalami osifikasi atau pengerasan tulang.
Dia menambahkan, anak dengan mikrotia juga perlu diberi pemahaman untuk menjaga kesehatannya sebelum operasi karena proses tersebut akan memakan waktu yang cukup lama. “Operasinya kan bukan operasi yang sebentar ya, ini operasi yang lama. Tentu hemodinamik pasiennya harus dinilai cukup baik. Selain itu, jantung serta paru-parunya juga harus bagus, tidak memiliki gangguan aliran darah, dan tidak ada gangguan proses pembukuan darah,” ujar dia. (RN)
