Diabetes Bisa Diperangi Dari Rumah, Simak Caranya!

Diabetes Bisa Diperangi Dari Rumah, Simak Caranya!

Artikel Umum, Artikel
[caption id="attachment_6059" align="alignleft" width="300"] Foto: PanduanBPJS.com[/caption] Penyakit diabetes merupakan salah satu masalah yang dialami oleh banyak orang di Indonesia. Pengobatan dari penyakit satu ini bisa dilakukan dengan mengubah gaya hidup. Menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Umum Bhakti Asih, Jakarta dr. Bhanu, SpPD, pencegahan dini diabetes, khususnya diabetes tipe 2. empat cara ini mudah dilakukan dan bisa diterapkan langsung di rumah. Siapkan makanan dari rumah Umumnya makanan yang dibeli di luar memakai minyak yang dipakai berulang-ulang dan bumbu-bumbu yang tidak sehat. “Salah satu yang bisa saya sarankan (untuk menghindari makanan tidak sehat) siapkan makanan dari rumah,” kata dr. Bhanu. Olahraga yang cukup “Satu hal yang saya respect dari Jackie Chan adalah apapun yang dia makan dia akan imbangi dengan olahraga. Misalkan dia makan satu es krim, dia akan…
Read More
Terapkan Ini Bagi Anak Korban Perundungan

Terapkan Ini Bagi Anak Korban Perundungan

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6044" align="alignleft" width="300"] Foto: fimela.com[/caption] Kasus bullying atau perundungan yang dialami oleh ABZ, siswi SMP korban pengeroyokan siswa SMA di Pontianak diyakini bakal memberikan sejumlah dampak. Salah satu hal yang diyakini psikolog bakal terjadi pada ABZ adalah trauma. “Trauma itu kan sangat subjektif, ya. Jadi, kita enggak tahu setelah kejadian ini apa yang muncul di dalam benak korban dan apa yang dipelajari korban akan dunianya,” kata psikolog anak Astrid Wen. Untuk saat ini, korban kekerasan seperti ABZ perlu istirahat fisik dan mental. Apalagi setelah viral, mungkin korban memikirkan banyak hal. Hal terpenting lainnya setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan yang menimpanya, korban perlu mendapatkan pendampingan atau konseling. Aktivitas ini tidak hanya perlu dilakukan korban tapi juga keluarga. “Sehingga ahli bisa melihat kemampuan korban dalam penyelesaian masalah atau bagaimana dengan cara…
Read More
Ini 9 Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Ginjal

Ini 9 Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Ginjal

Artikel Umum, Artikel
[caption id="attachment_6031" align="alignleft" width="300"] Foto: leminerale.com[/caption] Saat ini, kita bisa saja dengan mudah menjalani gaya hidup yang buruk. Kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari tersebut tanpa sadar bisa mempengaruhi kesehatan kita kedepannya. Banyak orang kerap mengalami masalah dengan ginjal karena pola hidup mereka yang buruk. Berikut ini 9 kebiasaan buruk yang bisa meningkatkan risiko penyakit ginjal: Konsumsi makanan olahan Saat ini kita biasa mengkonsumsi makanan olahan yang lebih mudah didapatkan. Tetapi, makanan olahan yang dikemas mengandung banyak fosfos dan natrium. Dua bahan ini adalah penyebab utama dari kerusakan ginjal. Sehingga disarankan kita mengurngi makanan olahan seperti burger, kue kering, sosis atau sayuran kaleng. Obat penghilang rasa sakit Sebagian dari kita mungkin kerap mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit. Tetapi, hal ini juga akan merusak ginjal kita dan memperburuk seseorang yang telah mengalami penyakit ginjal.…
Read More
Alergi Pada Anak Usia Dini, Ini Penyebabnya

Alergi Pada Anak Usia Dini, Ini Penyebabnya

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6024" align="alignleft" width="300"] Foto: serbaweb.com[/caption] Alergi yang dimiliki oleh seseorang baik berupa makanan atau hal lain merupakan sesuatu yang tidak nyaman. Masalah alergi ini biasanya bisa diturunkan ke anak ketika orangtua memiliki alergi yang sama. “Apabila kedua orangtua punya alergi, anaknya punya risiko 40-60 persen terkena alergi. Meningkat 80 persen jika orangtuanya punya alergi sama,” ungkap Budi Setiabudiawan, Konsultan Alergi dan Imunologi Anak di Rumah Maroko, Jakarta Pusat. Sayangnya, alergi tidak bisa disembuhkan. “Hanya bisa dikontrol dengan mengenali gejala alergi sejak dini,” katanya. Dengan mengenali sejak dini, alergi tidak akan terlalu parah dan menghindari risiko penyakit lanjutan seperti jantung, hipertensi dan ginjal. “Kenali gejala alergi di tiga tempat, kulit, saluran cerna dan pernapasan. Seperti anak sering gumoh, mual, dermatitis eksim dan batuk pilek,” ujarnya. Setelah mendapat gejala alergi, orangtua bisa…
Read More
Obesitas Bisa Berisiko Kanker Pankreas

Obesitas Bisa Berisiko Kanker Pankreas

Artikel Umum, Artikel
[caption id="attachment_6028" align="alignleft" width="300"] Foto: suara.com[/caption] Kanker pankreas relatif tidak umum, terhitung hanya lebih dari tiga persen dari semua kasus kanker baru. Namun, pankreas adalah jenis kanker yang sangat mematikan dengan tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya 8,5 persen. Berdasarkan studi, kelebihan berat badan sebelum usia 50 tahun secara signifikan dapat meningkatkan risiko kematian. “Tingkat kanker pankreas terus meningkat sejak awal 2000-an,” kata Eric J Jacobs, direktur ilmiah senior Epidemiology Research di American Cancer Society di Amerika Serikat. “Kami bingung dengan kenaikan itu karena merokok - faktor risiko utama kanker pankreas - menurun,” katanya dalam sebuah pernyataan. Sebagian besar penelitian sebelumnya menghubungkan antara berat dan kanker pankreas didasarkan pada berat bedan yang diukur pada usia dewasa yang lebih tua, yang mungkin kurang informatif karena bisa mencerminkan lemak tubuh yang diperoleh…
Read More
Jaman Sekarang Anak Gemuk Tidak Lucu Lagi

Jaman Sekarang Anak Gemuk Tidak Lucu Lagi

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_6021" align="alignleft" width="300"] Foto: ekafarm.com[/caption] Anak kecil atau bayi yang gemuk cenderung dianggap lucu dan menggemaskan bagi banyak orang. Namun di balik lucunya bayi yang memiliki tubuh gemuk, terdapat bahaya yang mengancam kesehatannya. Menurut Aman B. Pulungan, dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, anak yang gemuk sebenarnya tidak lucu. Bisa jadi, ada risiko terkena kelebihan berat badan pada dirinya. Aman mengatakan bahwa anak saat ini lebih rentan terkena obesitas salah satu faktornya karena gaya hidup yang tidak aktif. Berbeda dengan beberapa dekade lalu, tren permainan saat ini bergeser sehingga tidak lagi membutuhkan banyak aktivitas fisik. “Tahun 80-an, anak masih main Lego dan lain-lain, sekarang mainnya gim. Jadi lebih banyak menghabiskan waktu duduk,” kata Aman di Jakarta, beberapa waktu lalu. Maka dari itu, orangtua diminta untuk mencegah masalah…
Read More
Olahraga Berlebihan, Simak 6 Tanda Serius Ini

Olahraga Berlebihan, Simak 6 Tanda Serius Ini

Artikel Umum, Artikel
[caption id="attachment_6006" align="alignleft" width="300"] Foto: galena.co.id[/caption] Olahraga teratur sangat penting untuk menurunkan berat badan. Aturan sederhananya adalah, semakin banyak kalori yang dibakar, semakin cepat penurunan berat badan. Tetapi beberapa orang cenderung berlebihan dengan asumsi bahwa olahraga berlebih akan bermanfaat. Orang-orang menghabiskan berjam-jam di gym, melatih berbagai jenis peralatan untuk mendapatkan kondisi yang baik. Tapi tahukah Anda bahwa berolahraga berlebihan sebenarnya bisa menjadi kecanduan? Pada kenyataannya, segala sesuatu yang berlebihan buruk bagi kesehatan, bahkan berolahraga. Berikut 6 tanda serius berolahraga berlebihan yang harus Anda perhatikan, karena hidup ini terlalu singkat untuk menghabiskan semuanya di gym! Merasa lebih lelah Setelah menghabiskan berjam-jam di gym, jika Anda merasa sangat lelah daripada merasa bersemangat maka ada sesuatu yang salah. Jika Anda merasakan keinginan untuk tidur siang setelahnya, maka kemungkinan besar Anda terlalu memaksakan diri…
Read More
Jangan Sampai Lupa Memberikan Protein Bagi Anak

Jangan Sampai Lupa Memberikan Protein Bagi Anak

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_5999" align="alignleft" width="300"] Foto: pinkkorset.com[/caption] Di usia masih dini, anak membutuhkan berbagai macam gizi yang lengkap mulai dari karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Salah satu hal lain yang tak boleh dilupakan adalah juga kebutuhan protein pada anak. Menurut Juwalita Surapsari spesialis gizi dan klinis dari Rumah Sakit Pondok Indah, bayi dan anak-anak yang berada dalam tahap tumbuh dan berkembang, membutuhkan protein lebih banyak per kilogram berat badannya dibandingkan dengan orang dewasa. Asupan protein sehari-hari sendiri bergantung sama berat dan tinggi badan, usia, dan jenis kelamin. Anak membutuhkan protein sekitar 10 persen dari total kebutuhan energi harian atau kurang lebih 10 sampai 20 gram setiap hari. Untuk fungsinya, protein dibutuhkan sebagai zat pembangun. “Protein bisa menyusun otot, membuat hormon, membuat enzim pencernaan,” kata Juwalita. Dia melanjutkan bahwa kekurangan protein dapat…
Read More
Kebanyakan Konsumsi Suplemen Kalsium Berisiko Kanker

Kebanyakan Konsumsi Suplemen Kalsium Berisiko Kanker

Artikel Umum, Artikel
[caption id="attachment_6002" align="alignleft" width="300"] Foto: klikdokter.com[/caption] Mengonsumsi tablet kalsium secara berlebihan dinilai dapat meningkatkan risiko kanker. Menurut para ilmuwan di Tufts University, Amerika Serikat, mendapatkan nutrisi yang cukup dari sumber makanan lebih bermanfaat daripada mengonsumsi suplemen. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine menunjukkan bahwa asupan nutrisi tertentu yang memadai mengurangi risiko kematian dari penyebab apapun, ketika sumber nutrisi adalah makanan, tetapi bukan suplemen. Seperti dilansir The Indian Express, para peneliti menemukan bahwa dosis tambahan kalsium melebihi 1.000 miligram per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker. “Karena potensi manfaat dan bahaya penggunaan suplemen terus dipelajari, beberapa penelitian telah menemukan hubungan antara asupan gizi berlebih dan hasil yang merugikan, termasuk peningkatan risiko kanker tertentu, ”kata Fang Fang Zhang, associate professor di Tufts University, AS. “Penting untuk memahami peran…
Read More
Bayi Kena Demam Berdarah? Kenali Gejalanya

Bayi Kena Demam Berdarah? Kenali Gejalanya

Artikel Anak, Artikel
[caption id="attachment_5996" align="alignleft" width="300"] Foto: go-dok.com[/caption] Terdapat sebuah cara untuk mengetahui apakah bayi mengalami demam berdarah dengue (DBD) atau tidak. Mengenali hal ini sebenarnya bisa cukup pelik terutama karena bayi belum bisa berbicara dan mengeluh sakit. Gejala DBD selain demam yang tidak turun dan buah hati terlihat dehidrasi, orang tua juga perlu tahu gejala lain yang bisa dialami bayi. Gejala yang muncul pada tubuh bayi bisa jadi alarm buat orangtua kemungkinan bayi kena DBD. “Bayi itu (gejala khas DBD) paling muntah dan tidur terus. Kemudian ada bintik-bintik merah yang muncul pada tangan dan kakinya,” kata dokter spesialis anak konsultan Mulya Rahma Karyanti di Kementerian Kesehatan RI, Jakarta. Muncul bintik-bintik merah atau ruam merah pada kulit. Bintik merah ini diikuti dengan gejala lain, seperti kejadian syok (fase kritis) yang dipercepat oleh…
Read More