Ternyata, Ada Pola Asuh yang Efektif di Zaman Now

Ternyata, Ada Pola Asuh yang Efektif di Zaman Now

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4151" align="alignleft" width="300"] Foto: dok. infobisnismoment.com[/caption] Kemajuan teknologi dan cara berkomunikasi terus berubah, demikian juga seharusnya pola asuh orangtua. Mengajari anak dengan cara memberi nasihat atau pun interogasi dianggap tak cocok lagi bagi anak di era modern ini. Menurut Najelaa Shihab, pakar pendidikan dan parenting, dua cara itu tak lagi efektif sebagai bentuk komunikasi kepada anak, sebab tak akan sampai tujuan hingga dapat membuat masalah-masalah baru. Sebagai gantinya, Najelaa menyarankan agar orangtua memilih menceritakan pengalaman agar pesan bisa sampai pada anak. Pengalaman itu bisa milik pribadi atau orang lain, seperti pengalaman terlambat ke sekolah dulu karena keasyikan nonton film hingga larut malam. Hal itu lebih baik daripada langsung dinasihati. “Sama enggak pesannya? Sama, (hanya) caranya beda. Lewat bercerita lebih efektif membuka komunikasi, satu lagi lagi enggak efektif (langsung nasihat),”…
Read More
Menyimak Kekuatan “Kepercayaan” Bagi Anak

Menyimak Kekuatan “Kepercayaan” Bagi Anak

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4140" align="alignleft" width="300"] Foto: dok. cosmomom.net[/caption] Sebagai orangtua, sudahkah Anda menaruh kepercayaan pada anak? Tahukah Anda, kepercayaan yang diberikan penuh kepada anak merupakan modal besar dalam kemampuan tumbuh kembang. Dengan demikian, menurut Pakar Pendidikan dan Parenting  Najelaa Shihab, sebelum anak mengembangkan kemampuannya, orangtua yang harus lebih dulu memberikan kepercayaan kepada anak. “Anak butuh dipercaya dulu, kemudian dia akan buktikan kalau dia bisa melakukan sesuatu,” kata Najelaa di Jakarta, beberapa hari lalu. Orangtua, kata Najelaa, menaruh kepercayaan penuh kepada si buah hati hanya hingga usia dua tahun. Kepercayaan itu bisa tercermin bahwa si kecil bisa berjalan hingga berbicara. Namun setelah usia dua tahun—ketika anak mulai bergaul, bermain—orangtua mengurangi kepercayaannya. Najelaa bercerita, dia pernah bertemu dengan orangtua yang kurang percaya terhadap anaknya saat dititipkan ke sekolah. Orangtua tersebut terus-menerus meminta guru untuk menjaga,…
Read More
Perhatikan Menu Gizi Seimbang Harian Bagi Anak

Perhatikan Menu Gizi Seimbang Harian Bagi Anak

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4138" align="alignleft" width="241"] Foto: dok. makarame.com[/caption] Berdasarkan data Rikesdas 2013, saat ini masih banyak anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi kronis, yang ditandai dengan tingginya prevalensi stunting (tumbuh pendek) pada anak usia 1-5 tahun sebesar 37%, diikuti dengan  prevalensi obesitas semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi ini sejalan dengan  Data Global Nutrition Report 2016, Indonesia termasuk di dalam 5 besar negara dengan masalah kekurangan gizi kronis dengan tingkat 36,4%. Kondisi malnutrisi ini bisa terjadi lantaran pengetahuan masyarakat yang tidak memadai terkait gizi seimbang. Sebagai pihak akademis, IPB melihat perlu dilakukan intervensi terkait dengan peningkatan gizi bagi anak. Mengingat asupan anak yang sehat berawal dari isi piring makannya. Asupan makanan bergizi bagi anak dalam isi piring makan anak adalah sebaiknya kombinasi 50 % buah dan sayur, serta 50 %…
Read More
Saran Psikolog Agar Anak Makan Sehat

Saran Psikolog Agar Anak Makan Sehat

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4127" align="alignleft" width="300"] Foto: dok. makarame.com[/caption] Anak usia sekolah atau 5-12 tahun membutuhkan gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan fisik dan kemampuan psikologis. Orangtua memiliki peranan penting untuk memastikan kecukupan gizi pada anak usia sekolah. Pada masa usia ini, orangtua tidak lagi menggunakan pendekatan fisik pada anak tapi  pendekatan psikologis. Dengan melibatkan diskusi mendalam, yang dapat diterima oleh anak, serta melibatkan teknik modifikasi perilaku. Teknik lain yang digunakan adalah teknik koregulasi. Menurut psikolog anak dan remaja Roslina Verauli, “Untuk membuat anak agar makan makanan gizi seimbang yang diubah pertama bukan perilaku, tapi situasi dan konsekuensi,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu. Misalnya, orangtua dapat menyediakan makanan sehat di rumah. Ketika anak sekolah, orangtua menyiapkan bekal makanan yang sehat untuk anak. Selain itu, orangtua juga dapat menjadi panutan anak dalam mengkonsumsi makanan…
Read More
Waspadai Munculnya Fobia pada Anak

Waspadai Munculnya Fobia pada Anak

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4121" align="alignleft" width="267"] Foto: dok. makarame.com[/caption] Anak-anak bisa dikatakan rentan terhadap fobia. Fobia adalah rasa takut yang berlebihan pada sesuatu. Misalnya, anak takut bila berada di dalam ruangan yang gelap hingga menutup wajahnya dengan bantal erat-erat atau anak menjerit saat melihat kecoa di sekitarnya. Fobia dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Menurut Yoice Bunga Midasari, psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), banyak penyebab munculnya fobia pada seseorang. Misalnya, pengalaman setelah mengalami musibah banjir, kebakaran, atau gempa bumi yang traumatis. Semua peristiwa itu terekam di alam bawah sadar. Penyebab lainnya adalah pengaruh budaya. Orang Jepang, Cina, dan Korea, misalnya, sangat takut pada angka empat. Sedangkan orang Italia takut pada angka 17. Seperti halnya angka 13 bagi orang Barat, semua angka itu dianggap dapat membawa sial. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa fobia bisa…
Read More
Jangan Biasakan Menampar Anak

Jangan Biasakan Menampar Anak

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4111" align="alignleft" width="300"] Foto: dok. tribunnenews.com[/caption] Memberi peringatan kepada anak  di usia 5 tahun dengan cara menampar dapat memberikan dampak buruk pada perilakunya. Dampak buruk ini akan dimulai saat anak berumur 6 atau 8 tahun hingga ia beranjak remaja. Kesimpulan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan University of Texas terhadap 12 ribu anak di Amerika Serikat dua tahun belakangan. “Menghukum anak dengan cara menamparnya, adalah sebuah tindakan buruk, ini tidak membuat sikap anak menjadi lebih baik,” ujar Psikolog Peneliti dari University of Texas, Elizabeth Jerkhoff, seperti yang dikutip dari situs kesehatan WebMD, pekan lalu. Meski begitu, tidak semua faktor dalam penelitian yang dilakukan University of Texas dapat memaparkan, bila keburukan sikap anak selalu disebabkan oleh tamparan. Menurut Jerkhoff, ada banyak faktor yang membuat seseorang anak memiliki perilaku buruk. Tidak hanya karena perilaku…
Read More
Ini 6 Model Kasih Sayang Bagi Anak

Ini 6 Model Kasih Sayang Bagi Anak

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4106" align="alignleft" width="300"] Ini 6 Model Kasih Sayang Bagi Anak[/caption] Tidak hanya nutrisi dan aktivitas yang cukup, anak-anak juga butuh stimulus kasih sayang demi tumbuh dan kembangnya. Bentuk kasih sayang ini harus diberikan langsung oleh orangtua kepada anak. Berikut ini adalah enam bentuk stimulus kasih sayang, menurut psikolog keluarga Roslina Verauli. Bermain Vera mengatakan bentuk permainan dengan anak harus menyenangkan. Dalam mengajak bermain dengan anak, orangtua tak boleh memaksa atau dengan nada keras. “Berikan contoh main yang menyenangkan,” kata Vera di Jakarta, beberapa waktu lalu. Sementara itu, untuk mengatasi kebiasan anak buruk bermain gadget, maka harus dipastikan lebih dulu penyebabnya. Ada beberapa hal yang bisa menjadi persoalan seperti, orangtua yang kalah menyenangkan dari gadget, tak ada pilihan permainan selain gadget. Atau bahkan, orangtua yang menjadi model bagi anak-anak untuk bermain gadget. Memuji Dalam…
Read More
Nutrisi Sesuai Optimalkan Kecerdasan si Kecil

Nutrisi Sesuai Optimalkan Kecerdasan si Kecil

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4082" align="alignleft" width="300"] Foto: dok. tarantureepa.com[/caption] Para orangtua harus memahami tahapan penting di dalam kehidupan si kecil. Salah satunya, usia 1-5 tahun merupakan periode emas untuk mengoptimalkan kepintaran si kecil. Jadi dibandingkan tahapan usia lainnya, dalam periode emasnya si kecil memiliki kemampuan lebih untuk menyerap informasi lebih maksimal. Jika biasanya orangtua melatih kepintaran si kecil hanya berdasarkan kemampuan kognitif yang seperti merangkai kata, berhitung, dan mengenal beda, mulai sekarang ubah lah cara itu. Kepintaran si kecil tidak hanya diukur dari kepintaran kognitif atau yang sering disebut kepintaran akal. Mulai sekarang, orangtua harus mengukur kepintaran si kecil dari sinergi kepintaran akal, fisik, dan sosialnya. Lalu, seperti apa kepintaran akal, fisik, dan sosial si kecil? Kepintaran akal atau kepintaran mental mencakup kemampuan anak berkomunikasi, memecahkan masalah, berpikir jernih, dan kritis. Kepintaran…
Read More
Berbagi Tips Mendongeng Bagi Orangtua

Berbagi Tips Mendongeng Bagi Orangtua

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4078" align="alignleft" width="300"] Foto: dok. hipwee.com[/caption] Berbagi Tips Mendongeng Bagi Orangtua - Dibalik cerita pengantar tidur alias mendongeng, ternyata ada manfaat yang bisa dirasakan yakni merangsang perkembangan otak anak dan menguatkan ikatan dengan orangtua. Tetapi banyak juga orangtua yang bingung bagaimana harus menceritakan dongeng untuk buah hatinya karena menganggap mendongeng itu sulit. Menurut penelitian di Harvard University, dongeng yang dibaca oleh para ayah memiliki manfaat lebih bagi anak-anak, terutama anak perempuan. Seorang peneliti, Elisabeth Duursma mengatakan efek mendongeng sangat besar, terutama jika sang ayah mulai membacakan berita bagi sang anak dibawah usia dua tahun. Dibandingkan dengan para ibu, ternyata para ayah cenderung lebih mampu memancing imajinasi anak dengan diskusi imajinatif. Hal tersebut dapat meningkatkan kemampuan bahasa anak, karena lebih menantang secara kognitif dan merangsang kemampuan berpikir anak. Pendongeng dari…
Read More
Anak Berbohong? Simak 3 Tanda Berikut

Anak Berbohong? Simak 3 Tanda Berikut

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_4057" align="alignleft" width="300"] (Foto: dok. id.theasianparent.com)[/caption] Anak Berbohong? Simak 3 Tanda Berikut - Hampir semua orangtua akan mengalami masa-masa di mana anak mereka akan mencoba berbohong. Sebagian besar orangtua, dengan menggunakan nalurinya, pasti akan tahu kapan anak-anak mereka berbohong bahkan jika anak-anak mereka sudah bersumpah telah berperilaku baik. Tapi sekarang seorang ahli bahasa tubuh telah mengungkapkan tiga tanda yang bisa menunjukkan bahwa anak-anak telah berbohong kepada orangtua. Psikolog Judi James mengatakan, yang harus orangtua lakukan hanyalah melihat ke wajah anak untuk melihat apakah mereka mengatakan yang sebenarnya. Judi mengatakan, “Anak akan sering membesarkan bola matanya, mengangkat alis, dan berkata, ‘Saya tidak melakukan itu’ dan kemudian tiba-tiba orangtua akan mendapatkan sedikit isyarat penolakan, seperti ekspresi wajah lucu dengan memainkan mulut.” Sementara itu, ia juga mengungkapkan dua tanda lain yang harus…
Read More