Ini 6 Tipe Sakit Kepala dan Penyebabnya

Ini 6 Tipe Sakit Kepala dan Penyebabnya

Artikel, Artikel Umum
Banyak orang mengalami sakit kepala dalam intensitas yang tergolong sering dan cukup serius. Lantas, tak sedikit pula dari mereka yang mengabaikan, dan tidak tahu penyebab sakit kepala tersebut. Padahal, ada banyak tipe sakit kepala dan penyebabnya. Tipe sakit kepala yang kita alami ternyata bisa memiliki arti yang berbeda bagi kondisi kesehatan. Dokter Luke Powles, Kepala Dokter di Klinik Kesehatan Bupa, di London Inggris, mencoba menjelaskannya, seperti dikutip dari laman Cosmopolitan.co.uk, bahwa ada 6 tipe sakit kepala seperti dijelaskan berikut: Sakit kepala tegang (tension headache) Tension headache adalah tipe sakit kepala yang paling sering dialami. Mereka yang mengalaminya merasakan sakit kepala konstan di kedua bagian kepala, belakang mata atau terkadang leher. “Banyak pula yang merasa kepalanya seperti diikat,” kata Powles. Tipe sakit kepala ini…
Read More
Gali Bakat Anak Sedini Mungkin

Gali Bakat Anak Sedini Mungkin

Artikel, Artikel Anak
Mengenali minat dan bakat anak sejak usia dini sudah menjadi tugas orangtua. Bukankah akan membanggakan melihat si kecil melakukan hal yang ia sukai dan menjadi bakatnya seperti menyanyi, menggambar, atau mungkin memasak? Setelah mengetahui minat dan bakat anak, orangtua perlu mendorongnya untuk mengembangkan bakat tersebut. Untuk menggali dan mengembangkan minat dan bakat anak, Ibu dan Ayah perlu terlibat secara langsung. Fred Edward Fiedler, seorang pakar psikologi dari University of Washington mengungkapkan, ketersediaan waktu menjadi salah satu kunci sukses mengembangkan minat dan bakat anak. Orangtua beserta anak harus secara bersama-sama mengeksplorasi apa yang dimiliki anak. Namun, hal ini kadang jadi penghalang mengingat Ibu dan Ayah sibuk bekerja sehingga tak punya banyak waktu berinteraksi dengan anak. Menurut Fred, Ayah dan Ibu juga harus menyediakan tenaga…
Read More
Yuk, Kenali Gangguan Tidur “Baru”, Namanya Orthosomnia

Yuk, Kenali Gangguan Tidur “Baru”, Namanya Orthosomnia

Artikel, Artikel Umum
Selama ini kita mengenal gangguan tidur yang bernama insomnia. Dari studi yang dipublikasikan di Journal of Clinical Sleep Medicine, ditemukan ada sebuah gangguan tidur baru yang disebut orthosomnia. Gangguan tidur ini terjadi pada orang-orang yang terlalu terbobsesi dengan hasil pelacak tidur dan kebugaran. Mereka terlalu terobsesi mendapatkan tidur sempurna, sehingga berdampak buruk pada diri mereka sendiri. “Penggunaan alat pelacak tidur meningkat dengan cepat dan mendorong orang memiliki kesempatan melacak pola tidur mereka,” ungkap salah satu peneliti yang dikutip oleh The Independent. Peningkatan ini terjadi karena orang-orang yang mengalami insmonia mencari cara untuk pengobatan. Mereka mengandalkan data dari pelacak tidur dan mengejar ‘hasil positif’. Sayangnya, keberadaan alat pelacak tersebut justru berdampak sebaliknya untuk orang-orang yang tidak memiliki gangguan tidur. Mereka meyakini bahwa mereka menderita…
Read More
Ternyata, Ada Pola Asuh yang Efektif di Zaman Now

Ternyata, Ada Pola Asuh yang Efektif di Zaman Now

Artikel, Artikel Anak
Kemajuan teknologi dan cara berkomunikasi terus berubah, demikian juga seharusnya pola asuh orangtua. Mengajari anak dengan cara memberi nasihat atau pun interogasi dianggap tak cocok lagi bagi anak di era modern ini. Menurut Najelaa Shihab, pakar pendidikan dan parenting, dua cara itu tak lagi efektif sebagai bentuk komunikasi kepada anak, sebab tak akan sampai tujuan hingga dapat membuat masalah-masalah baru. Sebagai gantinya, Najelaa menyarankan agar orangtua memilih menceritakan pengalaman agar pesan bisa sampai pada anak. Pengalaman itu bisa milik pribadi atau orang lain, seperti pengalaman terlambat ke sekolah dulu karena keasyikan nonton film hingga larut malam. Hal itu lebih baik daripada langsung dinasihati. “Sama enggak pesannya? Sama, (hanya) caranya beda. Lewat bercerita lebih efektif membuka komunikasi, satu lagi lagi enggak efektif (langsung nasihat),”…
Read More
Benarkah Merawat Cucu Memperpanjang Umur Lansia?

Benarkah Merawat Cucu Memperpanjang Umur Lansia?

Artikel, Artikel Umum
Faktanya, orang lanjut usia yang menghabiskan banyak waktu bermain dan mengasuh  cucunya ternyata memiliki tingkat kesehatan yang tinggi dan berumur panjang. Penyebabnya bisa karena para kakek nenek itu jadi lebih banyak melakukan aktivitas fisik, secara psikologis lebih bahagia karena dekat dengan cucunya, atau pun secara mental lebih tertantang. Demikian kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh psikolog Ralph Hertwig dari Max Planck Institute yang berbasis di Berlin, Jerman. Penelitian itu dilakukan dengan mengevaluasi data dari studi tentang penuaan di Berlin, yang mewawancarai dengan lebih dari 500 orang berusia di atas 70 tahun. Wawancara dengan peserta riset dilakukan pada tahun 1990 dan 1993. Bahkan, para peserta tersebut diteliti hingga tahun 2009. Peneliti menemukan bahwa setengah dari kakek-nenek yang merawat cucu-cucu mereka masih mampu bertahan hidup…
Read More
Menyimak Kekuatan “Kepercayaan” Bagi Anak

Menyimak Kekuatan “Kepercayaan” Bagi Anak

Artikel, Artikel Anak
Sebagai orangtua, sudahkah Anda menaruh kepercayaan pada anak? Tahukah Anda, kepercayaan yang diberikan penuh kepada anak merupakan modal besar dalam kemampuan tumbuh kembang. Dengan demikian, menurut Pakar Pendidikan dan Parenting  Najelaa Shihab, sebelum anak mengembangkan kemampuannya, orangtua yang harus lebih dulu memberikan kepercayaan kepada anak. “Anak butuh dipercaya dulu, kemudian dia akan buktikan kalau dia bisa melakukan sesuatu,” kata Najelaa di Jakarta, beberapa hari lalu. Orangtua, kata Najelaa, menaruh kepercayaan penuh kepada si buah hati hanya hingga usia dua tahun. Kepercayaan itu bisa tercermin bahwa si kecil bisa berjalan hingga berbicara. Namun setelah usia dua tahun—ketika anak mulai bergaul, bermain—orangtua mengurangi kepercayaannya. Najelaa bercerita, dia pernah bertemu dengan orangtua yang kurang percaya terhadap anaknya saat dititipkan ke sekolah. Orangtua tersebut terus-menerus meminta guru untuk menjaga,…
Read More
Simak 8 Keadaan yang Kerap Batasi Konsumsi Sayuran

Simak 8 Keadaan yang Kerap Batasi Konsumsi Sayuran

Artikel, Artikel Umum
Tidak semua jenis sayuran memberi dampak kesehatan bagi tubuh. Yang terjadi justru sebaliknya. Berikut ini delapan kondisi kesehatan yang membuat seseorang tak boleh mengonsumsi beberapa jenis sayuran, seperti yang dilansir di laman Reader's Diggest. Penderita maag Bagi mereka yang menderita gangguan pencernaan ini, cobalah untuk berhenti mengonsumsi tomat selama 2-3 minggu untuk melihat apakah semuanya terasa lebih baik. Ini lantaran substansi yang tidak teridentifikasi dalam tomat dan produk berbasis tomat dapat menyebabkan meningkatkan asam lambung. Mengonsumsi obat pengencer darah Jika Anda mengonsumsi obat pengencer darah seperti warfarin (Coumadin), penting untuk mempertahankan kestabilan kadar vitamin K dalam darah. Sebab, peningkatan kadar vitamin K yang mendadak dapat mengurangi efek obat. Ini berarti, kita harus konsisten memperhatikan asupan sayuran, karena dari sinilah sebagian besar vitamin K…
Read More
Perhatikan Menu Gizi Seimbang Harian Bagi Anak

Perhatikan Menu Gizi Seimbang Harian Bagi Anak

Artikel, Artikel Anak
Berdasarkan data Rikesdas 2013, saat ini masih banyak anak Indonesia yang mengalami kekurangan gizi kronis, yang ditandai dengan tingginya prevalensi stunting (tumbuh pendek) pada anak usia 1-5 tahun sebesar 37%, diikuti dengan  prevalensi obesitas semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi ini sejalan dengan  Data Global Nutrition Report 2016, Indonesia termasuk di dalam 5 besar negara dengan masalah kekurangan gizi kronis dengan tingkat 36,4%. Kondisi malnutrisi ini bisa terjadi lantaran pengetahuan masyarakat yang tidak memadai terkait gizi seimbang. Sebagai pihak akademis, IPB melihat perlu dilakukan intervensi terkait dengan peningkatan gizi bagi anak. Mengingat asupan anak yang sehat berawal dari isi piring makannya. Asupan makanan bergizi bagi anak dalam isi piring makan anak adalah sebaiknya kombinasi 50 % buah dan sayur, serta 50 %…
Read More
Hindari Penyakit Jantung Dengan Banyak Minum Air Putih

Hindari Penyakit Jantung Dengan Banyak Minum Air Putih

Artikel, Artikel Umum
Pola makan sehat, menurut banyak pakar menjadi kunci untuk mencegah penyakit jantung. Ini tidaklah salah! Akan tetapi, ada satu hal lain yang bisa dilakukan, tapi kerap diabaikan yaitu banyak minum air putih. Kebiasaan sederhana ini tanpa disadari bisa membantu menjaga kesehatan jantung. Semakin jarang kita minum, semakin sedikit cadangan cairan dalam tubuh yang dapat membantu melarutkan kandungan garam pada darah. Artinya, darah akan mengandung banyak garam. Tingginya kandungan garam ini membuat darah menjadi semakin kental. Efeknya, volume darah secara keseluruhan akan berkurang. Karena volume darah menurun, ketika jantung memompa darah segar selanjutnya, jumlah yang disalurkan pun tidak sebanyak normalnya. Jantung kemudian akan bekerja lebih keras lagi untuk menutupi kekurangan tersebut. Itu sebabnya dehidrasi seringkali ditandai dengan jantung yang berdebar kencang. Dalam jangka panjang,…
Read More
Saran Psikolog Agar Anak Makan Sehat

Saran Psikolog Agar Anak Makan Sehat

Artikel, Artikel Anak
Anak usia sekolah atau 5-12 tahun membutuhkan gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan fisik dan kemampuan psikologis. Orangtua memiliki peranan penting untuk memastikan kecukupan gizi pada anak usia sekolah. Pada masa usia ini, orangtua tidak lagi menggunakan pendekatan fisik pada anak tapi  pendekatan psikologis. Dengan melibatkan diskusi mendalam, yang dapat diterima oleh anak, serta melibatkan teknik modifikasi perilaku. Teknik lain yang digunakan adalah teknik koregulasi. Menurut psikolog anak dan remaja Roslina Verauli, “Untuk membuat anak agar makan makanan gizi seimbang yang diubah pertama bukan perilaku, tapi situasi dan konsekuensi,” ujarnya di Jakarta, beberapa waktu lalu. Misalnya, orangtua dapat menyediakan makanan sehat di rumah. Ketika anak sekolah, orangtua menyiapkan bekal makanan yang sehat untuk anak. Selain itu, orangtua juga dapat menjadi panutan anak dalam mengkonsumsi makanan…
Read More